Jejak Pos Indonesia

 

 

IMG_3762

Mengunjungi Bandung yang dikenal sebagai kota kembang, ataupun Paris de Java ada beberapa gedung-gedung bersejarah yang bisa dikunjungi. Ada Gedung Sate, Museum Asia-Afrika, atau Museum Pos.

Saya menemukan Museum Pos ini secara tidak sengaja. Saat saya ingin mengunjungi Gedung Sate, ternyata Gedung Sate tidak terbuka untuk umum. Maka sayapun melangkah kaki menuju Taman Manula. Saat akan menyeberang, mata saya tertumbuk pada gedung bercat putih, mirip dengan Gedung Sate. Gedung yang berada di sebelah kanan Kantor Pos Bandung.

Di halaman museum tampak taman dengan tanaman yang tertata dengan rapi, cantik. Menuju gedung museum, saya menapaki anak tangga. Di atas pintu masuknya yang berjeruji tertulis “Museum Pos Indonesia.” Di gedung ini, bukan hanya museum, tetapi juga ruangan yang berfungsi sebagai kantor pos. Dengan warna merah keoranyean.

IMG_3765

Kaki sayapun melangkah menyusuri hall dengan langit-langitnya yang tinggi. Sebelum masuk ke museum sayapun menuju ke kantor museum. Sayapun mengisi buku tamu, dan seorang ibu menjadi guide selama kunjungan ke museum.

Museum Pos yang berdiri sejak tahun 1931 ini menempati ruang bawah dari gedung utama. Sebelum memasuki ruangan, tampak beberapa jenis kotak pos dari masa ke masa, hingga yang dipakai saat ini. Begitu memasuki pintu utama, tampak diaporama dari perjalanan Pos Indonesia dari masa ke masa. Juga berbagai jenis sepeda, sebagai transportasi dari tukang pos.

Di bagian koleksi perangko tampak berbagai perangko dari tahun ke tahun dipajang di sini. Juga perangko pertama di Indonesia tahun 1864 yang menggambarkan Raja William III. Juga foto dari perangko pertama di dunia, yang diterbitkan pada tahun 1840 oleh pemerintah Inggris. Juga dipamerkan berbagai jenis timbangan.

Di ruangan yang berada di belakang ruangan perangko, tampak pula berbagai seragam dari pegawai Pos dengan berbagai warna juga topinya. Piagam penghargaan, juga foto-foto dari pimpinan kantor Pos Bandung.

IMG_3819

Di bagian paling belakang museum ini, tampak pula berbagai replika surat-surat yang ditulis di atas daun lontar di masa kerajaan di Indonesia. Juga buku-buku sastra Jawa yang sangat tua usia dipamerkan di sini. Dari bahasa Kawi yang digunakan pada abad ke 8, hingga berubah ke bahasa Jawa di abad ke 16. Selain tulisan Jawa, seni lukispun digunakan pada sastra Jawa.

Selain satra Jawa, juga terdapat sastra Bali-Lombok, Batak. Di buku-buku Batak kuno, banyak menceritakan akan kekuatan gaib dan ramalan masa depan. Aksara Batak banyak dipengaruhi oleh India yang ditulis di atas kulit kayu. Dijadikan buku dalam bentuk akordeon. Yang sayangnya surat-surat ataupun naskah tersebut, tidak ada satupun yang tersimpan di museum ini. Semua surat-surat dan naskah tersimpan menjadi koleksi British Library, Inggris.

Saya sangat menikmati koleksi benda-benda bersejarah juga sejarah dari perjalanan Pos Indonesia. Hanya 1 hal yang sangat saya sayangkan dari museum ini, adalah udara panas di museum ini. Membuat gerah pengunjung yang membuat ketidak nyamanan pengunjung, juga kurangnya perawatan. Tampak cat dinding yang berwarna kekuningan di beberapa pojok karena lembab. Meninggalkan museum ini, saya berharap, semoga pemerintah daerah setempat memperhatikan perawatan museum Pos ini. Sehingga museum ini, tidak akan mati karena sepinya pengunjung.