Akhirnya mimpi itu menjadi nyata (1)

Rencana liburan musim panas yang biasanya kami rencanakan jauh-jauh hari, harus berubah-ubah dikarenakan susahnya menyatukan 4 keinginian dari penghuni rumah cinta Montmorency. Si Yves pingin ke Amerika karena pingin ngeliat patung Liberty, Hugo pingin ke Vietnam dengan alasan pingin ngeliat Viet Vo Dao, asal bela diri yang dia pelajari, diriku ke Argentina karena penasaran akan indahnya Ushuaia, dan P-J pingin ke Peru.
Dengan berbagai pertimbangan dari budget, cuaca dan waktu, akhirnya, kami memutuskan ke Indonesia, inipun setelah Yves dan Hugo mengerti dengan segala penjelasan dari pertimbangan-pertimbangan yang kami berikan. Dan dengan senang hati, mereka memutuskan untuk pulang kampung….karena kerinduan mereka akan oma dan sepupu serta tante dan omnya….
Lagi-lagi, kami bingung, daerah mana yang akan kami kunjungi di Indonesia, begitu banyak tempak indah yang belum kami kunjungi. 2 tempat eksotik yang selalu jadi mimpi untuk kami sentuh, Kep. Maluku atau Irian Jaya, pilihan jatuh ke Kep. Maluku, lagi-lagi karena berbagai pertimbangan dari jarak, dan kemudahan akses.
Kepulauan Maluku, salah satu provinsi di Indonesia bagian Timur yang terkenal akan rempah-rempah dan keperawanan alamnya, selalu hadir di mimpi-mimpi saya dan P-J. Mimpi ini sempat beberapa kali tertunda untuk mewujudkannya, alasan pertama, karena adanya kerusuhan yang pernah terjadi di sana, dan dari ngobrol bareng ama penduduk lokal di sana, keprihatinan saya semakin mendalam mengetahui siapa dalang di balik kerusuhan itu. Sebuah pembelajaran buat saya pirbadi, bahwa hasutan, fitnah, dengan mengatas namakan agama atau golongan, telah tega saling membunuh saudara. Sebuah sejarah kelam dari negara tercinta, Indonesia. Mudah-mudahan kerusuhan itu tidak akan pernah terjadi lagi di sana ataupun di Indonesia bagian manapun.
Alasan ke-2, walaupun Maluku berada dalam satu kesatuan negara tercinta, tapi, cuaca di sana, berbeda dengan cuaca di Jawa. Di mana di bulan-bulan Mei-Agustus, cuaca di sana kurang bersahabat, karena curah hujan yang sangat tinggi. Tapi kami, sepakat untuk mengeksplore Maluku, karena kami tidak punya pilihan lain selain bulan July/Agustus. Dengan harapan bahwa cuaca lebih bersahabat di saat kedatangan kami di sana, so….the show must go on!!

16 July 2011 dengan taksi, kamipun menuju bandara Juanda, perjalanan menuju bandara terasa lenggang, karena taksi yang kami tumpangi melewati jalan tol yang jarang sekali dipakai oleh para pengguna jalan, karena tarifnya yang lumayan mahal.
Begitu sampai di bandara, dan melihat angka yang tertera di argo, dalam hati saya misuh-misuh, karena pak sopir taksi mengambil jalur tol yang lebih panjang!! Kamipun segera menuju pintu masuk keberangkatan domestik, tapi….di depan pintu, mbak penjaga pintu menyuruh saya untuk menuju ke terminal Int’l, ya….karena saya memakai Garuda, ternyata penerbangan dengan Garuda dibedakan dengan penerbangan low cost.
Kamipun menuju terminal Int’l, untung jarak antara terminal domestik dan Int’l tidaklah terlalu jauh, walaupun bibir saya sempat sedikit mancung….Walaupun sebelumnya saya sempat bete dengan Garuda, karena pada saat saya melakukan reservasi lewat internet di Perancis, sempat gagal beberapa kali di saat pembayarannya, yang pada akhirnya, reservasi saya lakukan setelah saya sampai di Indonesia, dan beda harga di internet dengan agent, benar-benar menakjubkan, 700,000 rupiah/orang lebih mahal.
Tapi, rasa bete ini segera hilang, dengan pelayanan/service yang diberikan oleh pihak Garuda. Dari proses check in, ketepatan waktu, hingga selama penerbangan yang memakan 2,5 jam itu, senyum dari para staf dan awak kabin selalu menemani kami. Di boarding room, saya baru tersadar, bahwa hanya kami ber-4 yang melakukan perjalanan ke Ambon sebagai turis, dan P-J adalah satu-satunya bule di penerbangan tersebut.
Saat makan siang dihidangkan, saya dikejutkan dengan kwalitas makanan yang benar-benar enak, bahkan jauh….lebih enak dari penerbangan Int’l yang reputasinya sangat terkenal di dunia airlines!! Sebuah jempol patut diacungkan atas perbaikan pelayanan yang diberikan oleh Garuda!!!
Penerbangan selama 2,5 jam tidak terasa, karena kami menikmati pemandangan jauh….di bawah sana, juga gumpalan-gumpalan awan yang menyerupai kapas, yang sekali-sekali mengelilingi burung raksasa ini. 1/2 jam sebelum mendarat, telah terasa bahwa kami telah memasuki wilayah Indonesia bagian Timur, hal ini ditandai dengan pulau-pulau kecil yang bertebaran di bawah sana, yang tampak dari ketinggian tertata dengan cantik, tampak betul Empunya memang benar-benar mempunyai jiwa seni yang tidak ada yang bisa menandingiNYA. Dan tampak pula burung raksasa yang kami tumpangi mulai dikelilingi oleh gumpalan-gumpalan awan yang semakin tebal dan berwarna keabu-abuan.
Di saat roda pesawat hendak menyentuh landasan bandara, di kejauhan tampak pepohonan yang rindang menghiasi bukit-bukit di seberang bandara Pattimura. Salam perpisahan dari para awak kabin mengiringi langkah kaki kami meniggalkan pesawat Garuda. Memasuki bandara Pattimura Ambon, kembali saya terpesona akan kebersihannya. Sebenarnya bukanlah hal yang mengherankan jika kita menemui bandara yang rapi dan bersih.
Tapi, saya benar-benar terkejut, karena saya pernah menemui bandara Int’l di Indonesia yang keadaannya benaran amburadul, jangankan AC, kotak sampahpun tidak ada!! Padahal begitu banyak turis yang mengunjugi daerah pariwisata ini, karena daerah sudah terkenal di manca negara karena keindahannya, yang sayangnya….tidak diimbangi dengan kebersihan bandaranya!!
Di pintu ke luar, tampak sopir dari resort yang akan kami inapi telah menanti. Di sepanjang jalan menuju resort tempat kami menginap, tampak kota Ambon bermandikan cahaya lampu-lampu kota, menambah keindahannya yang diapit oleh bukit-bukit nan hijau dan teluk Ambon. Selamat datang di P. Ambon….bisik yang saya berikan kepada P-J dan anak-anak.
Surabaya, 30 July 2011
by Helene Koloway