Anak Dan Bahasa

Capture d’écran 2016-05-13 à 11.11.27

Yves dan Hugo, lahir sebagai anak kawin campur, Franco-Indonesia,  oleh karena itu, saya selalu berbahasa Indonesia kepada ke-2 anak saya. Alasan saya simpel saja, saya tidak mau mereka terputus dari akar ibunya, Indonesia, juga saya ingin anak-anak saya mampu untuk berbahasa Indonesia atau Perancis yang benar. Saya beruntung, karena suami sayapun mensupport saya untuk tetap berbahasa Indonesia kepada anak-anak.

Dari beberapa buku yang saya baca, bahwa anak-anak di bawah usia 8 tahun, akan lebih gampang menyerap berbagai bahasa. Dengan berbekal pengetahuan tersebut, membuat saya semakin mantap untuk terus berbahasa Indonesia kepada ke-2 anak saya. Adakah kendala dengan saya berbahasa Indonesia, sedangkan suami saya berbahasa Perancis kepada ke-2 anak saya? Saya katakan ada dan tidak ada.

Pada anak sulung saya, Yves, dia tidak mempunyai kendala apapun. Dia bisa berbicara dengan lancar pada usianya. Berbeda dengan adiknya, si bungsu, Hugo. Hugo sempat telat berbicara pada saat di mana teman-teman seusianya sudah lancar berbicara. Hugo sempat mengikuti therapy untuk berbicara. Khawatirkah saya dengan kondisi Hugo saat itu? Sejujurnya, saya jawab tidak. Karena saya tahu, bahwa keterlambatan Hugo disebabkan oleh berbagai hal. Yang membuat saya bete adalah komentar dari orang-orang yang sok tahu. Yang mengatakan bahwa Hugo harus mengikuti therapy karena saya berbahasa Indonesia….!!

Mengapa Yves tidak mengalami keterlambatan berbicara? Karena sejak dia lahir  hingga usia 2 tahun, kami tinggal di Abu Dhabi, dia belum sekolah. Yves lebih banyak di rumah dengan saya. Yang mana saya lebih banyak berbicara dengannya, dibanding bapaknya yang karena kesibukannya tidak punya banyak waktu untuk “ngobrol” dengan Yves saat itu. Kembali ke Perancis, Yves sudah mempunyai dasar yang kuat di bahasa. Jadi, begitu masuk ke TK, dia sudah mampu membedakan bahasa ibunya dan bahasa bapaknya.

Berbeda dengan Hugo, yang lahir di Perancis, dan mempunyai masalah dengan amandel yang berimbas pada pendengarannya. Karena hal itu, membuat keterlambatan Hugo berbicara, ditambah, dia tinggal di Perancis. Akar serabut dari pohon bahasanya belum kuat, tapi dia sudah harus mendengarkan 2 bahasa di sekelilingnya. Sejujurnya, yang membuat saya khawatir bukan keterlambatan berbicara dari Hugo. Saya berpikiran, seperti seorang anak yang sedang belajar berjalan, ada yang berumur 9 bulan sudah bisa berjalan, tapi ada juga yang berusia 13 bulan baru bisa berjalan. Yang membuat saya khawatir, lebih kepada kesehatannya pada saat itu.

Itu yang membedakan, kemampuan berbicara antara Yves dan Hugo saat mereka di usia anak-anak. Dengan bertambahnya usia, saya melihat bahwa kemampuan berbahasa asing ke-2 anak saya, sungguh luar biasa. Yves dan Hugo, mampu minimum 3 bahasa asing. Bahkan pada saat kami tinggal di Abu Dhabi untuk ke-2 kalinya, guru bahasa Arab mereka sempat kagum dengan nilai-nilai bahasa Arabnya.

Kembali ke Perancis, saat masuk SMP, Yves dan Hugo ikut kelas bilingual. Bahasa Jerman dan Inggris yang mereka ambil. Melihat nilai-nilai bahasa mereka, saya sebagai orang tua dibuat kagum, juga guru-guru mereka. Bahkan Yves 2 kali menjadi 3 terbaik untuk sekolahnya dari kejuaraan bahasa Inggris yang diadakan oleh pemerintah Perancis. Dan Hugo, walaupun belum mendapatkan 3 terbaik, tapi dia menjadi 5 besar dari kejuaraan tersebut.

Bisa dikatakan bahwa Yves dan Hugo, menguasai 4 bahasa. Indonesia, Perancis, Inggris dan Jerman. Untuk mengasah kemampuan bahasa mereka, pihak sekolah mengadakan pertukaran pelajaran ke Jerman, atau Belanda. Dan saya juga mengikutkan mereka ke dalam asosiasi yang bergerak untuk bahasa Inggris. Setiap tahun, asosiasi ini, mengirimkan anak-anak yang ingin belajar bahasa Inggris selama satu minggu dan tinggal di keluarga setempat.

Kegiatan selama di Inggris, adalah belajar bahasa Inggris di sekolah lokal, juga mengunjungi tempat-tempat bersejarah di sana. Sebuah kegiatan yang menarik buat Yves dan Hugo. Untuk pertukaran pelajar yang diadakan sekolah untuk bahasa Jerman, mereka melakukan hal yang kurang lebih sama dengan program yang dilakukan oleh asosiasi bahasa Inggris yang mereka ikuti.  Mereka menikmati sekali program ini. Dan progres bahasa Inggris mereka kelihatan sekali.

Walaupun tampaknya anak-anak saya lebih aktif berbahasa Perancis dibanding bahasa Indonesia, saya tetap menggunakan bahasa Indonesia. Walaupun adakalanya campur dengan bahasa Perancis dan Inggris. Tapi, saya tidak khawatir dengan kemampuan mereka berbahasa Indonesia. Hal ini dibuktikan setiap saya pulang kampung, Yves dan Hugo mampu berkomunikasi dengan oma, tante, juga sepupu-sepupunya.

Oleh karena itu, saya heran jika ada orang tua (ibu Indonesia) yang sangat ketakutan bahwa anak-anaknya tidak mampu berbahasa di mana mereka tinggal, hingga melupakan atau tidak mengajarkan bahasa Indonesia kepada anak-anaknya. Mereka lupa bahwa tidak ada bahasa bapak yang ada adalah bahasa ibu. Bahasa ibu, satu hal yang sangat dimengerti sekali oleh ke-2 anak saya. Dan jangan lupa, bahwa kekuatan sebuah akar budaya, bukan hanya dari tari-tarian, lagu-lagu, tapi bahasa. Jika seseorang tidak menguasai bahasa ibu mereka, mereka akan malas untuk berlibur di Indonesia. Oleh karena itu, setiap liburan musim panas, Yves dan Hugo selalu memilih untuk pulang ke Indonesia. Di mana akar tunjangnya berasal, mereka sebagai akar serabut, sudah mulai menguat pula di tanah ibunya.

Foto diambil dari google