Cinta Karena Sebuah Proses

IMG_0909

Beberapa waktu yang lalu sempat terjadi perbincangan ramai di media sosial tentang penjualan batik di sebuah butik International yang cukup terkenal. Kehebohan yang disebabkan karena adanya penjualan baju batik dengan motif  Megamendung yang berasal dari Cirebon, tapi diakui sebagai buatan Turki. Begitu banyak status yang isinya memprotes atau tidak suka dengan pengakuan batik Cirebon sebagai buatan Turki. Wajar…, karena sebagai rakyat Indonesia tersinggung dengan pengambilan trade mark yang semena-mena itu. Bref…., saya pribadi hanya bisa prihatin dengan banyaknya kejadian seperti ini. Tidak hanya batik, tapi begitu banyak karya budaya kita yang diambil atau diakui oleh negara lain. Semoga pemerintah segera bertindak untuk melindungi warisan karya budaya anak bangsa ini.

Batik…., begitu orang yang sangat bangga mengatakan bahwa batik adalah salah satu asal budaya kita, Indonesia. Bahkan di beberapa instasi sudah menjadi keharusan untuk menggunakan batik pada hari-hari tertentu. Dan di beberapa acara, batik sudah menjadi bagian pakaian resmi yang harus dikenakan. Saya sebenarnya bukan pecinta batik, tapi saya suka sekali memakai batik dengan motif seperti klasik, seperti motif parang.

IMG_0856

Pada saat liburan yang lalu selama 2 minggu tinggal di kota besar Surabaya, tidak banyak monumen-monumen bersejarah atau tempat-tempat yang asik dikunjungi. Hanya ngupi dan ngupi lagi atau makan yang tidak terlalu saya suka. Hingga saya berkenalan dengan salah seorang teman maya yang tinggal di Surabaya juga dan berkecimpungan di dunia batik membatik. Dari obrolan tentang kain batik yang beliau jual, hingga kepeduliannya akan batik. Yang ternyata beliau juga mengajarkan cara membatik. Maka sayapun tertarik untuk belajar membatik kepada teman saya tersebut, mas Leo.  Sesuai dengan hari yang kami sepakati, maka sayapun meluncur menuju ke rumah mas Leo ditemani oleh kakak saya.

Batik, yang ternyata berasal wujud dari kata benda batik, dan kata kerja membatik. Yang dikenal dalam bahasa Jawa “mbatik.” Mbatik berasal dari kata “mba” dan “titik” yang berati “ngembat titik” (melemparkan titik). Jadi membatik artinya adalah membuat titik.

IMG_0886

Proses membatik dimulai dengan membuat pola gambar. Bisa menjiplak dari gambar yang sudah ada, atau bagi yang jago menggambar, bisa langsung menggambar di atas kain. Dan ternyata serat kain juga menentukan hasil dari batik buatan kita. Setelah gambar yang telah jiplak di atas kain sudah rapi, maka tahap berikutnya adalah proses yang tersulit (untuk saya) adalah tahap memberi lilin dari dari pola yang sudah kita buat. Di sinilah tantangannya, karena dengan menggunakan canting, dengan lilin yang telah dilelehkan, mulailah kita menorehkannya di atas kain pola tersebut. Posisi memegang cantingpun harus sedikit diangkat membentuk sudut 30°, supaya lelehan lilin dapat menetes dengan mudah. Di sini dibutuhkan kesabaran dan kehati-hatian agar lelehan lilin tidak jatuh mengotori kain. Setelah selesai dengan memberi lilin, setelah dikeringkan, mas Leo melanjutkan dengan pewarnaan. Yang mana proses pewarnaan ini jarang diajarkan jika kita belajar membatik. Yang biasanya hanya sampai di proses memberi lilin.

IMG_0891

Dari proses pewarnaan, jika kita ingin mendapatkan hasil yang lebih bagus, bisa dilanjutkan dengan memberi lilin di beberapa bagian yang kita inginkan. Saya hanya belajar hingga proses pewarnaan karena waktu dari proses menggambar/membuat pola, pelilinan, hingga pewarnaan yang cukup panjang atau hampir seharian untuk kain yang hanya 20 cm x 20 cm.

IMG_0906

Dalam mengajarkan membatik, mas Leo mempunyai motto “Minimal mengalami,” yang maksudnya dengan kita belajar membatik paling tidak kita mengalami sekali/tahu bagaiman dalam membuat batik, dari sini, kita bisa mencintai warisan budaya yang satu ini, batik. Dan sayapun merasakan hal tersebut. Saya belajar membatik hampir 5 jam, proses yang panjang dan butuh ketelatenan, ternyata….saya sangat mencintai proses yang panjang ini. Dari sini, saya yang tidak terlalu suka batik, jadi menyukainya. Dan saya bisa mengerti mengapa harga sebuah kain batik bisa menjadi mahal. Karena di situ ada proses yang panjang, ketelitian, ketelatenan, dan seni.

Jika banyak dari kita yang hanya dengan bangga mengatakan mencintai batik, tapi tidak pernah mau untuk belajar memahami bagaimana proses pembuatan dan sejarahnya, rasa sayang itu hanya ada di permukaan, tidak ada ikatan bathin di sana. Hanya dengan bangga mengatakan bahwa batik adalah warisan budaya Indonesia, tapi tidak ada keinginan untuk mempromosikannya. Semoga batik Indonesia semakin dikenal di dunia, tidak lagi diakui oleh negara lain, karena kita, bangsa Indonesia bukan hanya sebagai pemakai, tapi juga mau belajar tentang batik.

Terima kasih mas Leo, yang telah mengajarkan saya untuk belajar membatik dan membuat saya cinta akan batik.