Cinta Tak Hanya Dalam Kata

 

 

 

789A2185

« Batik kamu bagus… »

« Iya dong…,khan aku cinta Indonesia »

« Anak kamu lucu banget mana cantik dan ganteng pula…, bisa berbahasa Indonesia ? »

« Ngapa’in berbahasa Indonesia ? Khan mereka tinggalnya di luar Indonesia. Lagian tiap tahun aku pulang kampung kok. »

« Trus mereka bisa ngobrol ama keluarga kamu ? »

« Ya gitu deh…. »

Oh….,o.k deh…. Obrolan yang sering terdengar diantara sesama wanita Indonesia yang tinggal di luar.

« Apa kamu sanggup ? »

« Itu bukan tugas kita, itu adalah tugas dari KBRI »

Sebuah pertanyaan dan pernyataan under estimate ketika saya ingin mengadakan acara Journée Indonesienne.

Berawal dari menjadi anggota non aktif sebuah asosiasi ibu-ibu perkawinan campur, saya mencalonkan diri menjadi ketua dari asosiasi tersebut. Keberanian saya mencalonkan diri menjadi ketua, karena tidak adanya dari para anggota yang mau menjadi ketua. Sedangkan asosiasi ini, adalah sebuah asosiasi legal yang terdaftar berdasarkan hukum 1901 Perancis. Dalam pemilihan ketua, salah satu program yang saya usung adalah memperkenalkan budaya Indonesia. Yang mana, pada pemilihan tersebut, saya terpilih menjadi ketua dari asosiasi tersebut. Senang…. ?! Kalau saya boleh jujur, saya mengatakan tidak, karena saya tidak mempunyai pengalaman menjadi ketua dalam sebuah organisasi. Tapi, dengan keyakinan dan keinginan memajukan asosiasi ini, pasti akan ada dukungan di sini.

Menjadi ketua dari asosiasi yang mayoritas anggotanya adalah ibu-ibu yang usianya jauh…lebih senior dan telah lama tinggal di Perancis juga dengan berbagai karakternya, tidak mudah untuk saya. Belum lagi suara miring dari luar asosiasi yang mengatakan bahwa asosiasi yang saya pimpin hanyalah kumpulan ibu-ibu yang cuma makan-makan, tidak ada kegiatan positif, grup ibu-ibu borjouis Sedih…. ?! Ya…, saya sedih mendengar suara-suara miring tersebut. Karena saya tahu bahwa banyak dari ibu-ibu dari anggota asosiasi ini yang ingin melakukan sesuatu. Mereka ingin asosiasi wadah tempat mereka berkumpul, bersosialisasi melakukan kegiatan positif. Kegiatan mengenalkan budaya Indonesia seperti yang pernah mereka lakukan beberapa tahun yang lalu.

Dari rasa keprihatinan akan suara-suara miring itulah, saya berusaha melakukan kegiatan positif. Selain acara pertemuan bulan yang diisi dengan arisan. Arisan sepertinya telah menjadi bagian dari budaya Indonesia dalam bersosialisasi. Saya mengadakan workshop fotografi, juga pemutaran film.

Waktu bergulir. Di awal musim semi, saya mengajukan program untuk membuat acara Journée Indonesienne untuk menyambut musim panas. Sambutan adem ayem ketika saya mengutarakan program ini. Tapi dari respon yang dingin, beberapa anggota dengan antusias menyambutnya. Rasa antusias dari beberapa ibu-ibu ini, terbentuklah grup tari. Dan saya ada di dalam grup tari ini. Tujuan saya hanya sederhana, memberikan dukungan kepada anggota yang dengan antusias membentuk grup tari ini.

Grup tari yang beranggotakan « hanya » 7 orangi ini berlatih dengan rutin. 2 tarian daerah, tarian dari Sumatra Utara dan Kalimantan Timur. Selain berlatih dengan rutin, merekapun menyiapkan baju-baju untuk pertunjukan. Latihan yang telah berjalan beberapa kali, tetap…tidak ada yang berminat untuk bergabung dari anggota yang lain. Tapi, tidak mematahkan semangat teman-teman saya untuk berlatih. Mereka tetap berlatih dengan hati dan suka cita. Tujuan dari grup tari ini hanya 1, tampil secara prima di acara Journée Indonesienne.

Apa yang dilakukan oleh grup tari ini berbuah indah. Sebuah asosiasi wadah dari mahasiswa dan alumni jurusan bahasa Indonesia dari INALCO (Institut National Des Langues et Civilation Orientales). Dengan keberanian dan percaya diri, grup tari ini menawarkan diri untuk bisa tampil dalam acara kesenian Journée Malaisie. Pentas budaya yang diadakan di INALCO, Paris.

Tepuk tangan gegap gempita mengiringi tari Tor Tor dengan kostum merahnya berpadu dengan kebaya beraneka warna. Kembali tepuk tangan memenuhi ruangan saat tarian Enggang meninggalkan panggung. Bangga …. ?! Tentu saja…, 2 buah tarian dari 2 provinsi di Indonesia tampil di depan publik Perancis.

Dengan tampilnya grup tari di INALCO, timbul suara-suara miring, juga membuat beberapa anggota ikut bergabung dalam grup tari ini. Satu langkah maju diikuti oleh langkah yang lain.

Rencana mengadakan Journée Indonesienne mendapata sambutan positif dan dukungan dari pihak KBRI ataupun pimpinan Dharma Wanita Paris. Pihak KBRI memberikan dukungan dengan meminjam tempat dan segala perlengkapannya. Dharma Wanita Paris, mengajarkan untuk berlatih angklung. Dan disambut dengan hangat dari anggota.

Persiapan demi persiapan dilakukan. Latihan, pembentukan panitia, rapat dengan panitia ataupun pihak KBRI dilakukan. Sebuah persiapan yang memakan waktu, energi, juga emosi. Terjadi senggolan-senggolan kecil ataupun drama selama persiapan.

14 Juni 2015, adalah hari besar untuk saya. Pertaruhan dari masa jabatan saya. Apakah acara Journée Indonesienne ini akan sukses atau sebaliknya….. ?!

Tenda, meja-meja untuk bazar makanan dan kerajinan Indonesia telah disiapkan.. Satu per satu undanganpun memasuki halaman KBRI. Menikmati kelezatan makanan-makanan khas Indonesia dari para peserta bazar. Usai menikmati kelezatan makanan Indonesia, para undanganpun mulai memenuhi ruangan Sasana Budaya.

Acara demi acara mengisi ruangan Sasana Budaya. Dibuka dengan tarian klasik dari Jawa Tengah, tari Golek Tirtokencono. Diikuti oleh tarian Pendet, Bali. Tarian yang seringkali tampil di berbagai acara.

Dari Bali, pengunjung diajak menikmati istrumen musik yang berasal dari bambu, angklung. Penampilan ibu-ibu berkebaya dengan grup musik KOMSTRAD, Jawa Barat dengan gendangnya. Sebuah grup yang datang khusus dari Indonesia dengan musisi dan penarinya. Lagu Tanah Airku seperti membuat kecintaan akan tanah air tidak akan pernah lengkang di manapun kita berada. Dan ditutup dengan lagu Es Lilin yang rancak. Tabuhan gendang berpadu dengan suara angklung adalah harmoni yang pas di telinga untuk bergoyang.

Pengunjung yang sebagian besar adalah orang Perancis, kembali diajak untuk mengenal keaneka ragaman baju adat perkawinan dari berbagai provinsi di Indonesia. Seni bela diri pencak silat yang beranggotakan para mahasiswa ikut unjuk diri dengan kepawaiannya.

Kembali dengan agem, sledet, tari Legong Keraton yang berasal dari Bali mengisi panggung dengan latar belakang berwarna merah. Disusul dengan tari-tarian Jejer Dawur dari Banyuwangi, Tor Tor dari Sumatra Utara, tari Lilin dari Sumatra Barat, Enggang dari Kalimantan Timur tampak semakin indah dengan kostum penarinya yang dibalut baju berwarna hitam dengan ornamennya berbentuk halilintar. Lagu Rek Ayo Rek dari Jawa Timur membuat para pengunjung untuk bergoyang.

Di puncak acara, grup tari KOMSTRAD di bawah pimpinan bapak Yoyon, dibuka dengan tarian Kandangan yang memikat dengan penarinya yang cantik Sifa. Dilanjutkan dengan tariannya Maung Lugay. Para hadirinpun dibuat takjub dengan tarian Doger Kontrak yang dinamik dengan kostum yang berwarna-warni dan diakhiri dengan para penarinya menggenakan kacamata hitamnya, betul-betul menarik dan indah…. Tepuk tangan tidak ada hentinya di akhir acara ini.

Acara berakhir dengan wajah-wajah puas dari 300 pengunjung baik dari warga Indonesia yang bermukim di Perancis ataupun warga Perancis sendiri. Sebuah acara kesenian untuk memperkenalkan Indonesia berhasil dengan sukses. Wajah-wajah lelah berbaur dengan wajah-wajah bahagia. Kerja keras dari 13 ibu-ibu perkasa selama 3 bulan terbayar sudah.

Suara-suara sumbang berubah menjadi suara-suara merdu. Pujian dan ucapan selamat terlontar. Rasa bangga bercampur dengan kebahagian. Program saya dan tujuan dari asosiasi terbayar sudah.

Rasa cinta dan bangga menjadi dari bagian dari bangsa Indonesia bukan hanya sekedar memakai baju batik, menyukai masakan Indonesia, ataupun sekedar pulang kampung menikmati keindahan alam Indonesia. Tapi, apakah kita mau dan tidak malu untuk berbahasa Indonesia, bahasa sebagai akar dari budaya sebuah bangsa ? Apakah kita mau untuk memperkenalkan budaya kita dengan keterbatasan kita ? Karena kitapun bisa sebagai duta bangsa tanpa harus melemparkan tugas tersebut kepada KBRI sebagai lembaga yang mewakili negara Indonesia. Jawaban dari semua itu kembali ke kita…..

Tidak banyak yang bisa saya berikan kepada Indonesia. Tapi kepedulian, rasa cinta dan kebanggaan saya dan sebagian dari ibu-ibu di sini untuk memperkenalkan budaya Indonesia lewat seni juga bahasa adalah salah satu bentuk manefestasi dari rasa memiliki darah Indonesia. Sesuatu yang dijalankan dengan cinta akan berakhir dengan indah dan manis.

Dirgahayu Indonesiaku…. !!

 

Note : tulisan ini saya ikutkan dalam lomba kepenulisan untuk memperingati HUT Republik Indonesia ke 70 yang diadakan oleh KBRI Paris. Dan telah menjadi juara pertama di lomba tersebut.