Temanggungan Cikal Bakal Bumi Blambangan, Kaya Akan Sejarah

IMG_8416

Banyuwangi adalah ibu kota yang berada di ujung Timur Pulau Jawa yang berada di kabupaten Banyuwangi. Sebuah Kabupaten yang mulai menggeliat di dunia pariwisatanya. Wisata baharilah yang menjadi primadonanya. Begitu banyak pantai-pantai indah yang bisa dikunjungi di sini. Tapi, ada yang terlewatkan dari promosi wisata dari kabupaten ini, mengujungi desa Kawitan atau yang lebih dikenal dengan Kampong Wisata Temenggungan.

IMG_8601

Desa Temenggungan yang tidak besar ini berada di pusat kota Banyuwangi. Kampong Wisata Temenggungan ini letaknya di belakang  kantor Bupati Banyuwangi. Konon, di sinilah Banyuwangi berasal. Pada saat pusat pemerintahan yang berada Kadipaten Muncar dipindahkan, maka ke hutan  Tirtaganda dipindahkan dan di tempat inilah asal babat alas dilakukan dengan dibangunnya kota Temenggungan. Di sinilah bumi Blambangan berdiri pada tahun 1774.

IMG_8532

Puingan rumah peninggalan Belanda

IMG_8578

Pak Bujan, dengan kostum Minak Jinggo

Dengan ditemani mas Billy, saya dan keluarga menyusuri kampung yang tertata dengan apik dan bersih, kita akan menemui rumah-rumah kuno peninggalan jaman Belanda yang beberapa tinggal puing-puingnya. Sayapun sempat mengunjungi sebuah rumah berpagar hijau, rumah peninggalan dari Bupati ke-5 Banyuwangi. Rumah yang ditinggali oleh salah satu keturunannya, Pak Bujan. Beliau adalah salah seorang penari dari kesenian teater tradisional, Janger. Dengan bangga beliau memperlihatkan kostum dan pernik-pernik baju tarinya dengan peran sebagai Minak Jinggo.

 

IMG_8557

Saya juga mengunjungi sebuah rumah yang merupakan peninggalan jaman Belanda. Rumah yang ditempati oleh keluarga Pak Herman ini telah berusia 100 tahun. Sebuah rumah yang masih meninggalkan sisa-sisa di masanya dengan koleksi barang-barang kuno berupa perabotan, atau benda-benda tajam seperti keris dan tombak. Bahkan dapurnyapun masih berupa tungku yang menggunakan kayu bakar. Keunikan dari rumah ini seperti yang dikatakan oleh mas Billy dan yang kami lihat adalah bangunan rumah yang tidak menggunakan paku!! Dan rumah ini adalah rumah kuno terbesar di Kampong Wisata Temenggungan.

IMG_8535 salah satu lukisan warga Temenggungan yang mencuri perhatian saya

Keramahan penduduk setempat diperlihatkan pada saat secara tak sengaja mata saya memandang ke sebuah ruang keluarga dari balik jendela yang terbuka sebuah lukisan yang nyeni. Ketika saya, bertanya bolehkah saya masuk untuk melihat lukisan tersebut dari dekat, seorang ibu dengan ramah mempersilakan saya untuk masuk.

Ibu pemilik rumah yang mempunyai darah keturunan Belanda, menceritakan bahwa lukisan tersebut adalah karya sang suami. Suami ibu tersebut adalah seorang seniman seni rupa, tidaklah mengherankan jika begitu banyak lukisan yang menghias dinding rumah ibu tersebut. Tampak pula kumpulan foto dari putra si ibu dengan grup musiknya.  Suami dan anak beliau adalah seniman. Dan memang, desa Temenggungan ini adalah pusat seniman lokal berasal.

Jika kita pernah mendengar lagu “Genjer-genjer,” yang pernah dilarang di era Orba karena yang identik dengan PKI, maka di sinilah pencipta lagu ini berasal. Penciptanya adalah M. Arif, diciptakan pada tahun 1940-an. Seorang seniman angklung, yang merupakan seorang muslim dan putra dari seorang Kyai. Lagu ini diciptakan untuk mengkritik pemerintahan Jepang. Lagu yang berisi kritikan betapa menderitanya rakyat pada saat pemerintahan Jepang. Genjer adalah jenis tanaman yang tumbuh di rawa, juga merupakan makanan ituk. Karena menderitanya rakyat pada saat itu untuk bisa makan daging, mereka hanya mampu makan genjer tersebut.

IMG_8512

Setelah Kemerdekaan, lagu Genjer-Genjer ini menjadi terkenal. Bing Slamet salah satu penyanyi yang mempopulerkan lagu ini. Sayang, lagu yang asalnya adalah mengkritik pemerintahan Jepang, yang akhirnya dinyanyikan oleh PKI sebagai lagu propaganda. Yang mana, partai Lekra pada saat itu berada di desa Temenggungan ini. Yang menyebabkan desa Temenggungan dianggap sebagai pendukung partai komunis. Imbas dari hal ini, desa Temenggungan menjadi anak tiri pada rezim Orba, itu semu ditandai dengan tidak adanya pembangunan infra struktur di desa ini.

IMG_8388

Menjadi desa yang terisolir tidak mematikan semangat untuk berkarya dari masyarakat desa ini. Di desa inilah para seniman Banyuwangi, juga pengrajin batik berada. Salah satu kesenian musik yang menjadi bagian dari masyrakat ini adalah musik patrolnya. Dan di sini pula para seniman Indonesia ataupun dari mancanegara berkumpul.

IMG_8390

 

IMG_8404

Kunjungan saya ke sini, para musisi dengan instrumen angklungnya menyuguhkan musik-musik rakyat dengan sentuhan jazzy yang enak untuk didengar sekaligus untuk bergoyang. Tampak warga kampung menikmati grup musik yang bermain di depan pendopo kantor Kelurahan. Dengan instrumen musik seperti kentongan, gitar, perkusi, seruling yang terbuat dari potongan paralon, juga instrumen yang mirip kolintang, mereka membuat alunan musik yang rancak. Terdengar indah di telinga. Mereka memainkan lagu-lagu daerah Banyuwangi dengan sisipan warna jazzy.

IMG_8427

Ibu Aris

IMG_8477

Anak dan suamipun turut menari

Di salah satu lagu tradisional yang mereka mainkan, Ibu Aris, warga setempat, yang menjual gorengan dan rujak menari dengan gemulai tarian tradisional setempat. Dengan senyum manisnya ibu Aris mengalungkan selendang merah kepada saya dan suami. Sebuah ajakan untuk menari bersama beliau. Suasana bertambah ramai, ketika seorang gadis manis berbaju kuning, Sazha, ikut turun ke arena. Kalungan selendang merahpun diberikan kepada ke-2 bujang saya, Yves dan Hugo. Dengan gerakan yang malu-malu, Yves dan Hugopun menari menikmati suasana yang penuh dengan nuansa seni. Keseruan mencapai klimaksnya ketika ibu Soeparti, penari senior tahun 70-an yang juga adalah pembatik menari bersama suami saya.

Rasa lelah menari bersama warga setempat hilang saat menikmati segelas temulawak ditemani oleh kudapan tradasional berupa ketan dengan taburan kelapa di atasnya. Suguhan yang disiapkan oleh warga setempat.

IMG_8510

Meninggalkan desa Kampong Wisata Temenggungan yang kaya akan history, seni, berbagai perasaan yang tertinggal. Rasa sedih, kagum, dan bangga berbaur menjadi satu. Sedih dengan apa yang telah dialami sekian dekade atas perlakuan pemerintah di era Orba, kagum dengan keuletan masyarakat setempat mempertahankan kesenian tradisional di mana mereka berada, dan bangga ketika tempat ini menjadi salah satu tempat berkumpulnya para musisi Indonesia ataupun International berkumpul. Dan pada tanggal 21 Agusutus yang lalu, untuk memperingati Hari Kemerdekaan RI yg ke 71, telah diadakan pertunjukan sebuah pentas musik yang bertajuk “Jazz Patrol Kemerdekaan.”

Saya berharap, semoga Kampong Wisata Temenggungan akan semakin dikenal di berbagai belahan dunia dengan musik patrolnya juga kekayaan sejarahnya.