Etika Bertamu

IMG_1189

Seringkali kita bertamu atau menerima tamu. Tentu saja etika bertamu di setiap negara pasti berbeda. Seperti halnya di Indonesia, kita bisa bertamu bisa sewaktu-waktu, tanpa pemberitahuan dulu, baik itu datang sendiri, ataupun berombongan.

Sedangkan di negara Barat, kita harus memberitahukan tuan rumah jauh hari. Kita tidak bisa datang semaunya sendiri, baik itu untuk bersilahturahmi, apalagi untuk menginap.

Untuk beberapa orang kebiasaan orang Barat kesannya formil sekali, atau bahkan ada yang berkomentar, “mau bersilarutahmi aja, kok kudu ngasih tahu dulu!”

Tapi, menurut saya pribadi, saya lebih suka tata cara bertamu orang Barat. Bayangkan aja, kalo tiba-tiba ada tamu, sedangkan kita lagi pake’ daster, atau di rumah tidak ada persiapan makanan apa-apa, walaupun (mungkin) si tamu tidak mengharapkan suguhan apa-apa. Tapi, buat si tuan rumah, mereka akan menyuguhkan sesuatu.

Atau juga buat si tamu sendiri, bayangkan aja, sudah datang jauh-jauh, ternyata si tuan rumah tidak ada. Tentu saja si tamu akan kacewa. Dan ini bukan kesalahan si tuan rumah tentunya.

Pernah salah seorang relative saya yang berniat menginap di tempat saya, akhirnya saya tolak dng halus. Bayangkan aja, mau nginep ke rumah ngirim sms bunyinya, “KA dari Belanda berapa dan jam berapa?” Lha, ini mau minta tolong, kok nadanya memerintah. Yang ada, tidak saya balas, yang berarti dia tidak bisa nginep di tempat saya.

Atau curhat seorang teman, yang kedatangan tantenya. Si tante, pingin jalan-jalan mengunjungi Paris, tapi tidak kuat jalan, nah….yang ada temen saya kudu nyewa mobil!! Ini khan namanya ngerepot’in….!!!

Pengalaman saya dalam bertamu apalagi menginap:

1. Saya akan memberitahukan kedatangan saya jauh hari. Dan saya berprinsip jangan sampai kedatangan saya mengganggu si tuan rumah, apalagi sampai mengganggu rencana mereka.

2. Jika saya menginap, saya benar-benar memastikan dengan tuan rumah, bahwa kami akan datang sekel/sendiri. Dan sekali lagi, saya selalu menegaskan, kalo memang tidak bisa menerima kita, kita-pun bisa menerimanya. Tentu saja, saya akan menerima apapun alasannya, TANPA SAKIT HATI sedikitpun.

3. Saya akan memberi buah tangan untuk tuan rumah.

4. Sebisa mungkin, saya meminimalkan untuk merepotkan pihak tuan rumah. Saya, akan berusaha untuk jalan sendiri, tapi jika si tuan rumah akan menemani saya, saya akan membayar tiket dan makan selama kami ke luar.

5. Usahakan untuk sedikit membantu pekerjaan RT pihak tuan rumah, sekecil apapun, mis. membantu memasak, memata/membereskan meja makan, membereskan kamar yang kita tempat’in.

6. Usahakan untuk mengobrol dengan keluarga yang lain, mis: suami/istri atau anak-anak, jangan hanya ngobrol dengan teman kita saja.

7. Pada saat saya meninggalkan/pulang, saya selalu membereskan kamar tidur saya, karena tuan rumah sudah memberikan tumpangan tidur buat saya. Dan jangan lupa bahwa kita bukan tinggal di hotel.

8. Sekali lagi ucapkan terima kasih dengan tulus sebelum meninggalkan tuan rumah, karena tuan rumah pun akan merasakan apakah kita senang dengan apa yang dilakukan oleh tuan rumah.

9. Ini penting dan sering dilupakan, jika kita sudah sampai dengan selamat sampai ditujuan, JANGAN LUPA MEMBERI KABAR kepada mereka.

10. Dan jangan sampai setelah urusan bertamu yang sampai menginap selesai, selesai juga urusan berkabar-kabari…..!! Karena hal ini-lah yang sering terjadi. Pas mau datang kirim e-mail, sms, telp, selesai bertamu, jangankan telp, sms, imel-pun….khalas!!!

Tulisan ini, dari pengalaman sebagai tamu juga tuan rumah.