Hell in the hidden paradise

Menonton sebuah reportase televisi Perancis tentang ekologi dan ekonomi sangat menarik untuk dinikmati.

Reportase di buka dengan unjuk rasa para penduduk di sebuah kepulauan yang lautnya sangat indah. Para demonstran membakar sebuah rumah tempat para keamanan berjaga-jaga, tampak kemarahan di muka mereka. Mereka menolak kapal yang akan berlabuh untuk membantu ekplorasi pertambangan emas.

Menyaksikan reportase ini, saya dan P-J bertanya-tanya, di manakah tempat indah yang menyimpan emas di dalamnya? Peru….Chili? Semua terjawab, ketika seorang nara sumber berkebangsaan Jerman yang wajahnya sangat familiar buat saya sedang memperjuangkan hingga ke pengadilan menyebutkan pantai Pulisan!!

Ya….Pulisan, adalah sebuah pantai yang sangat indah yang berada di Sulawesi Utara. Tidak jauh dari Pulisan ini, terdapat Pulau Lembeh , 2 tempat yang terkenal dengak keindahan kehidupan bawah lautnya. Di ke-2 tempat inilah, saya dan keluarga pernah menghabiskan liburan pulang kampung pada tahun 2007.

Di reportase ini, sang wartawan menceritakan bahwa keindahan ke-2 tempat tersebut ataupun taman nasional Tangkoko terancam punah, dengan polusi yang akan ditimbulkan oleh ekplorasi dari tambang emas yang terdapat di Tongka Tidung. Sebuah perusahaan Australia, MSM, dengan uangnya telah membeli kebobrokan mental aparat pemerintah Indonesia untuk mendirikan perusahaan industri penggalian tambang emas. Di mana untuk pembuangan limbah mereka tidak memperhitungkan akan merusak lingkungan hidup di sekitarnya. Limbah arsenik dan mercure yang mereka gunakan untuk memisahkan emas yang telah mereka gali, dengan seenaknya akan dibuang ke laut….!!

Emas…..kekayaan alam yang nilainya sangat tinggi dibanding kekayaan alam apapun, sebuah kekayaan yang tidak habis karena kita mengkonsumsinya, karena semakin kita menimbunnya semakin tinggi harga yang kita dapatkan. Di reportase ini pula dikatakan bahwa penyimpanan emas terbesar di dunia berada Washington dengan jumlah yang sangat amazing untuk disebutkan 8,000 ton!!

Dan tidaklah mengherankan jika perusahaan Amerika, Newmont, telah mencemari lingkungan alam Indonesia dengan apa yang pernah terjadi di selat Buyat. Di mana rakyat Buyat Pante telah menjadi korban pencemaran lingkungan yang dilakukan oleh perusahaan Newmont tersebut. Begitu banyak rakyat Buyat Pante menderita penyakit Minamati, penyakit yang mematikan karena mengkonsumsi ikan yang telah tercemari oleh limbah pembuangan emas.

Dibandingkan dengan penambangan di Peru, di mana di sana, penambangan dilakukan secara tradisional. Mereka benar-benar memperhatikan ekosistem/lingkungan hidup dengan tidak membuang limbah seenaknya. Pemerintah Peru telah memberlakukan kebijakaan dengan menjual harga emas lebih mahal, tapi tidak merusak lingkungan alam itu sendiri. Selain itu, dengan penambangan secara tradisional, hasil yang diperoleh akan dinikmati oleh rakyat Peru sendiri.

Berbeda dengan pemerintah Indonesia benar-benar tidak pernah memperhatikan lingkungan hidup, dengan semena-mena membuang limbah ke laut, ditambah pula dengan memberikan ijin perusahaan asing untuk mengeksplorasi kekayaan alam kita, yang hasilnya sudah tentu akan dibawa kabur oleh perusahaan asing tersebut….

Saya tidak tahu sudah begitu matinya matahati dan nurani para pejabat kita?hingga mereka tidak lagi pernah memperdulikan bangsa dan negara tercinta ini. Bagitu banyak yang harus dikorbankan oleh pemerintah Indonesia hanya sekedar mendulang kekayaan untuk mereka yang disebut “pejabat” yang nota benenya adalah “penjahat.” Mereka tidak pernah memikirkan berapa banyak penduduk yang akan menderita, mati, menjadi korban dari limbah arsenik dan mercure yang mereka gunakan? Mereka tidak pernah memikirkan bahwa keaneka ragaman kekayaan alam bawah air Indonesia yang merupakan 30% hotspot di dunia akan musnah….!

Hati saya sangat sedih, hancur, marah….bercampur menjadi satu, ketika mengetahui bahwa hidden paradise yang pernah saya kunjungi akan tercemari oleh perusahaan penambangan emas. Pulisan dan Lembeh daerah pariwisata Sulawesi yang selalu saya rekomendasikan buat teman-teman saya di sini akan hilang/musnah oleh keserakahan pemerintah Indonesia. Apakah saya harus membawa ke-2 bocah lanang saya untuk mengunjungi negara lain untuk melihat keindahan alam yang seharusnya dimiliki oleh bumi tercinta Indonesia?! Apakah foto di atas hanya akan jadi kenangan indah dari pantai Pulisan yang akan hilang keindahannya dalam 10 th mendatang?!

*tulisan dari kegalauan hati seorang ibu yang mempunyai cita-cita mengenalkan keindahan dan kekayaan alam Indonesia kepada 2 anak lanang tercintanya*