Indonesiapun Memikat Publik Perancis

IMG_1571

Menjadi bagian dari Diaspora Indonesia di Perancis, ada keinginan dari anggotanya yang ingin memperkenalkan Indonesia kepada publik Perancis. Sebuah keinginan dari hati yang paling dalam karena rasa cinta kepada negara tercinta Indonesia.

Melalui asosiasi IKFI (Ikatan Keluarga Franco Indonesia) sebuah asosiasi di mana perkumpulan dari ibu-ibu yang menikah dengan warga Perancis, IKFI mempunyai program memperkenalkan budaya Indonesia di Paris.

Sebuah program yang tidak gampang merealisasikannya, karena tidak sedikit yang kontra dengan program yang diusung oleh asosiasi ini. Berbagai kendala menghadang, ada yang mengatakan bahwa memperkenalkan Indonesia bukan tugas sebuah asosiasi, tapi tugas KBRI, berapa biaya yang harus dikeluarkan hingga ketidak percayaan bahwa asosiasi IKFI mampu melakukan Indonesian Day.

Tapi, dengan keyakinan dan dengan ketulusan hati dari ibu-ibu anggota yang mau menjadi panitia, pada bulan Maret terbentuklah panitia untuk pelaksanaan Indonesia Day yang direncanakan pada bulan tanggal 14 Juni 2015.

IMG_1721

Sebuah panitia kecil yang beranggotakan 13 ibu-ibu yang karena rasa cinta dan keingininan memperkenalkan budaya Indonesia di Perancis. Dengan saling bergandeng tangan, kami berjibaku menyiapkan semua rencana untuk acara Indonesian Day. Sebuah rencana yang dilakukan dengan cinta, semua akan mendapatkan ridho dari Sang Pemilik Hidup. Permohonan untuk mendapatkan tempat di KBRI mendapat respon positif. Pihak KBRI dengan antusias memberikan beberapa ruang. Dari ruang untuk berganti pakaian, taman untuk berjualan makanan, ruang garasi untuk berjualan produk kerajinan tangan Indonesia, hingga ruang Sasana Budaya untuk pertunjukan kesenian.

Ibu-ibu panitiapun tidak sedikit harus menjadi pengisi acara dari tari-tarian, angklung, dan harus terpontang-panting lari antara latihan dan menjemput anak-anak. Ataupun harus rapat di akhir pekan meninggalkan anak dan suami. Dengan dukungan beberapa teman di Indonesia untuk pembuatan flyer dan sponsor, dengan sponsor utama Garuda Indonesia, ada rasa keharuan di dada akan support beberapa perusahaan dan teman akan terselenggaranya acara Indonesian Day ini.

Walaupun telah mendapatkan tempat dengan gratis, dan bantuan beberapa sponsor, ternyata pengeluaran untuk mengadakan acara ini ternyata cukup besar untuk sebuah asosiasi non profit ini, yang hanya mengandalkan iuran 25 euro per tahun dari anggotanya.

Untuk bisa melaksanakan dan menutup biaya untuk acara ini, maka diputuskan untuk menjual tiket seharga 5 euro per orang untuk umum dan 3 euro untuk anggota. Dengan keterbatasan tempat, maka tiket yang kami jual kepada umum tidak melebihi dari 300 tiket.

2 minggu menjelang hari H, saya mendapat kabar, bahwa pihak KBRI telah mengundang tim kesenian KOMSTRAD dari Bandung dibawah pimpinan Pak Yoyon Darsono akan datang ke Paris. Dan dengan tim keseniannya, pak Yoyon akan mengisi acara di Indonesian Day. Lengkap sudah kebahagiaan saya, juga panitia acara Indonesian Day.

IMG_1541

Tanggal 14 Juni 2015, semua meja bazar sudah disiapkan juga peserta bazar sudah mulai berdatangan menyiapkan makanan dan barang-barang kerajinan yang akan dijual. Juga dekorasi dan persiapan untuk pengisi acara sudah dipersiapkan dengan rapi.

Jam 10 pagi, pintu sudah mulai dibuka untuk tamu-tamu. Satu per satu tamu berdatangan. Sambil menunggu waktu acara kesenian yang akan dimulai jam 14 :00, para tamu bisa menikmati cita rasa makanan Indonesia, dari kue-kue yang berasal dari Sulawesi Utara, seperti kue Panada, Lemper Manado. Juga ada kue onde-onde, gemblong. Ada pula berbagai makanan pengisi perut makan siang, siomay Bandung, Pempek, asinan Bogor, ayam rica, sayur asam dengan ikan pesmolnya. Ataupun nasi rendang, bakso, sate Padang, dan tak ketinggalan bakso bola tennis.

Di bagian kerajinan tangan, ada yang menjual berbagai baju batik, kebaya, ataupun pernak-pernik dekorasi dari Indonesia. Ataupun ada asosiasi yang berpartisipasi dengan menjual buku-buku yang berhubungan dengan Indonesia, ataupun sebuah asosiasi yang memperkenalkan produknya yaitu sebuah alat pendeteksi bencana alam.

IMG_1592

Tepat pukul 14 :00 acara kesenian dibuka. Acara yang rencananya dibuka dengan pemutaran video tentang alam Indonesia, ternyata ada sedikit kesalahan teknis yang akhirnya dengan berat hati, harus dibatalkan. Dan acara dibuka dengan tarian Golek Tirtokencono, sebuah tarian klasik yang berasal dari Jawa Tengah ditarikan dengan indah oleh Andalusi. Yang diikuti oleh tarian penari tamu yang berasal dari Bali, Pendet. Tarian yang seringkali tampil di berbagai acara. Dan keistimewaan dari tarian kali ini, dibawakan oleh seorang ibu dengan putrinya, Laetitia. Seorang anak dari pernikahan Indonesia-Belgia. Sebuah pertunjukan tari sekaligus menunjukkan kedekatan hubungan antara anak dan ibu, dan begitu besarnya keinginan Icha, panggilan Laetitia untuk mempelajari kesenian Indonesia.

Dari tarian Pendet, dilanjutkan dengan permainan angklung yang dimainkan oleh ibu-ibu anggota IKFI dengan kebayanya yang beraneka warna dengan batik di bagian bawahnya. Dengan iringan gendang dari pemain musik dari grup KOMSTRAD, lagu Tanah Airku mengalun dengan indah, dilanjutkan dengan lagu Kakak Tua yang terdengar pula beberapa dari tamu yang datang bernyanyi, dan ditutup dengan lagu daerah Es Lilin yang terdengar sangat rancak dengan permainan gendang yang begitu indah. Yang mana di lagu Es Lilin ini, ditutup dengan suara merdu para ibu-ibu pemain angklung. Diakhir lagu ini, terdengar tepukan tangan rasa puas dari pengunjung.

789A2280

Acara dilanjutkan dengan parade pakaian pengantin dari Sumatra dan Jawa, para pelajar Indonesia yang terhimpun dalan asosiasi PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) berlenggak-lenggok dari podium memperkenalkan baju yang mereka kenakan, dan berjalan hingga ket aman. Dan tidak ketinggalan pula, putra dari salah seorang perkawinan campur Indonesia-Perancis ikut memperagakan baju dari Lampung.

789A2223

Dari parade baju pernikahan dari beberapa daerah, dilanjutkan dengan tarian Tor Tor dari Sumatra Utara yang rancak, diiringi beberapa tepuk tangan dari pengunjung mengikuti suara musiknya yang riang gembira. Lagi-lagi, sebuah tarian yang ditarika oleh ibu-ibu anggota asosiasi IKFI dan sebagaian besar dari mereka adalah panitia dari acara ini. Dari Sumatra Utara, pengunjung diajak menikmati keindahan sekaligus kegarangan bela diri Indonesia, Pencak Silat. Anggota dari ti mini, kebanyakan adalah para pelajar Indonesia yang sedang belajar di Perancis, walaupun tampak pula di salah satu anggotanya ada yang berkebangsaan Kamerun yang aktif mempelajari seni bela diri ini.

Diselingi pembagian hadiah tombola yang merupakan sumbangan dari para donatur, kembali pengunjung diajak menikmati keindahan Bali, lewat tariannya Legong Keraton. Sebuah tarian yang ditarikan dengan indahnya oleh Ovi yang mempunyai darah Bali di dalamnya. Tarian ini, bagaikan sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari Ovi. Penonton dibuat berdecak kagum oleh lekukan agem, dan liriikan matanya, khas tarian Bali.

IMG_1658

Jika di berbagai acara kesenian, didominasi oleh tarian dari Bali, Jawa, ataupun Aceh, maka kali ini, sebuah tarian dari Kalimantan Timur muncul dengan customnya yang indah dan mewah. Sebuah baju berwarna hitam, dengan ornamen yang menggambarkan halilintar membalut para penarinya yang menari dengan gemulai. Tari Enggang…

Dari Kalimantan Timur, pengunjung diajak menikmati keindahan tarian dari Ujung Timur Pulau Jawa, Jejer Dawur, sebuah tarian yang berasal dari Banyuwangi. Tari Lilin, dan tari Sangkep menggoyang podium tanpa henti. Bahkan pengunjung diajak bergoyang lewat alunan lagu Rek Ayo Rek oleh Shinta, seorang pelajar Indonesia.

789A2776

Di puncak acara, grup tari KOMSTRAD di bawah pimpinan bapak Yoyon, dibuka dengan tarian Kandangan yang memikat dengan penarinya yang cantik Sifa. Dilanjutkan dengan tariannya Maung Lugay. para hadirinpun dibuat takjub dengan tarian Doger Kontrak yang dinamik dengan kostum yang berwarna-warni dan diakhiri dengan para penarinya menggenakan kacamata hitamnya, beneran menarik dan indah…. Tepuk tangan tidak ada hentinya di akhir tarian ini.

IMG_1703

Dan acara Indonesian Day inipun ditutup dengan penarikan hadiah utama berupa tiket dari Garuda Indonesia berupa tiket untuk 1 orang Amstredam-Jakarta-Amsterdam. Dan pengunjungpun pulang dengan perasaan puas, hal ini seperti dilontarkan oleh sepasang warga Perancis yang baru mengetahui keindahan tarian Tor Tor dan Enggang yang baru mereka ketahui pada hari itu. Juga sepasang suami istri yang datang khusus datang dari Strasbourg (500 km dari Paris) karena ketertarikannya akan budaya Indonesia. Ataupun ucapan selamat dari beberapa warga Indonesia sendiri yang bermukim di Perancis.

Sebagai Diaspora Indonesia yang bermukim di Perancis, mungkin kami belum bisa membantu banyak secara materi kepada negara Indonesia. Tapi, kami berusaha memberikan sumbangsih terbaik kami untuk negara tercinta, Indonesia, dengang memperkenalkan akan keindahan dan keaneka ragaman budaya Indonesia. Semoga, apa yang kami lakukan bisa menggiring warga Perancis berlibur, menggunjungi Indonesia. Dan nama Indonesia semakin berkibar di bumi Perancis.