Ketika Agama Menjadi Sebuah Momok

Timbuktou

 

Timbuktu adalah sebuah film karya dari sutradara Abderrahmane Sissako. Timbuktu adalah nama sebuah kota di sebuah region yang berada di Mali, sebuah negara di Afrika Barat dan juga merupakan salah satu cagar budaya dari UNESCO.

Film dibuka dengan suara tembakan dari mobil pick up yang ditumpangi oleh 4 orang dengan muka tertutup dan bendera ISIS berkibar memburu seekor gazel. Juga penghancuran beberapa benda berejarah. Sebuah film yang dengan latar kota Timbuktu dengan kulturnya. Dengan diceritakannya kehidupan Kidan bersama istri dan anak perempuannya yang tinggal di padang pasir dalam tendanya. Sebuah kehidupan yang mereka pilih di saat para tetangganya telah pergi meninggalkan daerah dengan masuknya para jihad yang menguasai Timbuktu. Kidan masih bisa memainkan gitarnya mengiring anak dan istrinya bernyanyi, di mana di kota Timbuktu, tiap malam diadakan razia untuk tidak mendengarkan musik atas nama hukum agama yang mereka pegang. Juga larangan merokok, ataupun harus memakai kaos kaki ketika berada keramaian.

Timbuktu yang kaya akan budaya, seakan-akan menjadi kota yang menakutkan dengan masuknya orang-orang yang berasal Islam radikal. Di mana di film ini, juga diceritakan, bagaimana seorang perempuan penjual ikan harus dimasukkan penjara hanya karena dia melawan aturan yang mengharuskan para wanita bersarung tangan. Juga sebuah keluarga yang harus menjalankan hukum cambuk dan ditanam separuh badannya hingga leher dengan lemparan batu di kepala mereka. Bahkan seorang Iman tidak mampu menyelamatkan anak wanita dari seorang janda yang dipaksa kawin oleh salah satu anggota kelompok jihad. Bahkan Kidanpun harus menerima hukuman mati hanya karena dia tanpa sengaja telah menembak seseorang dalam sebuah perkelahian demi seekor sapi.

Timbuktu sebuah film yang ingin menyampaikan kepada penontonnya bahwa begitu banyak kemunafikan di balik kekejaman yang dilakukan atas nama agama. Hal yang digambarkan bagaimana seorang komandan dari kelompok jihad dengan sembunyi-sembunyi merokok di setiap kesempatan. Ataupun menggoda Satima istri dari Kidan.

Melihat film ini, ada sentuhan kemanusiaan di mana kondisi barbarik atas nama yang sedang terjadi di berbagai belahan dunia. Juga pemirsa disuguhin pemandangan dari Mali yang indah dengan padang pasirnya. Tidaklah mengherankan jika Abderrahmane Sissako mendapat gelar sebagai sutradara terbaik dalam Cesar Award yang lalu, dan menjadi salah satu nominasi film terbaik.¬†Semoga kebiadaban atas nama agama akan segera berakhir di berbagai pelosok bumi ini. Semoga…..

 

*note foto diambil dari internet