Ketika Bermain Di Pantaipun Ada Aturannya

Capture d’écran 2016-08-24 à 12.08.55

Beberapa hari ini, di berbagai media ataupun media sosial ramai membicarakan tentang kebijakan yang baru dikeluarkan oleh pemerintah Perancis. Peraturan tentang larangan menggunakan burkini di beberapa pantai di Perancis. Peraturan yang mengundang pro-kontra di berbagai kalangan. Banyak yang mengatakan larangan ini adalah salah bentuk paranoid akut dari pemerintah Perancis, atau bahkan ada yang mengatakan bahwa sebuah bentuk diskriminasi, apapun istilahnya. Ada pula yang mengatakan bahwa larangan ini, untuk menghargai kultur Perancis.

Saya teringat pada saat saya tinggal di Abu Dhabi, hampir selama 6 tahun. Banyak dari kita melihat negara Arab Emirat sebagai negara yang bebas. Tapi di balik kebebasan yang tampak, ada hal-hal kecil yang tidak diketahui oleh banyak dari kita.

Di Abu Dhabi ada pantai yang indah, menurut teman-teman wanita saya yang pernah ke sana. Pantai tersebut bernama Lady Beach, sebuah pantai yang hanya diperuntukkan kaum hawa. Apakah saya pernah ke pantai tersebut….? Tidak…, karena larangan tersebut. Saya respek dengan larangan tersebut, karena saya lebih suka menikmati suasana pantai dengan suami saya.

Dalam hal berpakaian, negara Emirate boleh dibilang bebas, tidak seperti di Arab Saudi yang mengharuskan kaum wanita untuk berapakaian tertutup atau memakai abaya. Tapi…,jangan salah…,walaupun di Emirat kaum wanita bebas berpakaian, ada hal-hal yang tidak tertulis dan yang dilupakan oleh para pendatang. Banyak dari para imigran yang lupa bahwa negara Emirate adalah negara dengan budaya Arab. Juga negara yang berazaskan Islam.

Saya dan suami sangat menghargai sebuah budaya atau aturan sebuah negara di mana kami berada. Oleh karena itu, saya selalu berpakaian “sopan” pada saat tinggal di Abu Dhabi. Bahkan, suami sayapun kalau memakai celana pendek, selalu di bawah lutut. Karena, kami tahu bagaimana menghargai kultur sebuah negara.

Pernah pada satu saat berjalan dengan seorang teman yang memakai rok yang super duper mini ke sebuah mall. Dan seorang ibu berabaya, menegur teman saya dengan kata-kata yang pedas. Kaget, shockkah saya mendengar teguran ibu tersebut? Tidak…., karena kesalahan ada di diri teman saya. Saya beranggapan bahwa teman saya tidak menghargai budaya negara Emirate, yaitu budaya Arab. Bahkan saya pernah berdebat dengan seorang teman saya yang mengatakan bahwa dia tidak bisa mengerti bagaimana wanita Emirati menggunakan abaya. Sayapun mengatakan, sama halnya bagi kaum wanita Emirati yang ke Perancis, melihat cara berpakaian wanita Perancis.

Kembali ke masalah burkini, saya bukannya mendukung ataupun menolak peraturan pemerintah Perancis. Apapun alasan pemerintah mengeluarkan peraturan ini.  Sebagai masyarakat yang tinggal di negara Perancis, kita harus mematuhi peraturan tersebut. Suka atau tidak suka. Saya pribadi sangat mengerti perasaan beberapa teman muslim saya yang mungkin beranggapan peraturan ini sepertinya salah satu bentuk diskriminasi kaum muslim. Tapi, mari kita menghargai apapun yang telah menjadi satu peratruan dari sebuah negara. Sama halnya, ketika wanita harus berabaya di negara Arab Saudi. Itulah sebuah peraturan, yang mau tidak mau, suka tidak suka harus kita taati selama kita tinggal di negara tersebut.

Tulisan ini saya buat hanya ingin berbagi, melihat dari berbagai sudut pandang. Menghargai budaya negara sekaligus peraturan sebuah negara. Seperti sebuah pepatah yang mengatakan, “Di mana bumi di pijak, di situ langit di junjung.”

Salam sayang, love and peace…

*foto diambil dari google