Lilin Untuk Alan….

 

Mengunjungi sebuah gereja adalah sebuah bagian dari kunjungan wisata yang saya lakukan dalam berpariwisata. Dan hal itu saya lakukan saat mengunjungi sebuah gereja yang berada di kota Bruges, Belgia beberapa hari yang lalu. Sebuah gereja tua yang banyak dikunjungi oleh para turis. 

Walaupun saya jarang berdoa, setiap kali mengunjungi sebuah gereja saya selalu berdoa, dengan menyalakan lilin-lilin yang tersedia. Lilin yang saya nyalakan adalah doa untuk sebuah permintaan secara khusus. Dan uang logam 50 sen saya masukkan kotak pengganti lilin yang saya nyalakan.

Apa yang saya lakukan, diikuti oleh ke-2 anak saya, Yves dan Hugo, berdialog dengan Tuhan tanpa saya tahu apa yg mereka bicarakan dengan Tuhannya. 
Ke luar dari gereja ……, kami menuju gereja Holly Blood, gereja Katholik bergaya Neo Gothic. Menuju gereja itu, saya dan suami membicarakan keponakan saya, Alan.

Alan, adalah keponakan saya yang akan menginjakkan usianya yang ke 21 tahun. Seorang anak muda yang sedang meraih cita dan cinta…., hingga pada tgl 25 July 2011 tengah malam di Lampung di mana dia tinggal telah menjadi korban tabrak lari dari seorang pengendara mobil tak bertanggung jawa yang telah menabrak motor yang dia tumpangi malam dia baru pulang kerja menuju rumah.
 Pendarahan otak, operasi segera dilakukan. 1 bulan dia terbaring tak berdaya di Rumah Sakit. Begitu banyak biaya yang dikeluarkan oleh kakak juga keluarga untuk menyelamatkan nyawa Alan…. Nyawa Alan terselamatkan, tapi tidak keseluruhan. Dia hidup tapi tidak bisa melakukan apa-apa…., lumpuh secara total, tanpa bisa berkomunikasi dan melakukan apa-apa….bahasa kedokterannya adalah vegetative state…..!!

Vegetative state



 adalah kondisi dimana seseorang bangun secara fisik, tapi tidak sadar akan diri dan sekelilinginya setelah ke luar dari kondisi koma, karena kerusakan pada otak.  Ibarat sebuah tanaman, tumbuh berkembang tapi tidak mampu berkomunikasi !!

Saat saya memasuki gereja Holly Blood, saya duduk di kursi yang ada, berkomunikasi dengan Pemilik Hidup Semesta. Hingga saat saya melewati sederetan lilin yang belum dinyalakan, tiba-tiba Hugo membisikkan sebuah kalimat, « Mama, saya minta uang buat menyalakan lilin. Saya ingin berdoa untuk mas Alan, mama. » Saya tidak mampu berkata sepatah katapun, selain memberi uang 50 sen….

Hingga hari ini, saya melihat di TL kakak saya, dia memasang foto keponakan saya, Alan, yang terbaring tak berdaya yang memasuki bulan ke 20….Ada rasa sedih, iba, dan marah melihat keadaanya. Sedih, iba, melihat kondisinya, telah terengut masa depannya, seorang laki-laki muda yang ganteng, punya masa depan, menjadi laki-laki yang tak mampu melakukan apapun !! Membayangkan bagaimana kakak saya harus merawatnya dengan segala keterbatasan dan kemampuannya. Marah….karena, hingga saat ini, si penabrak, bisa bebas tanpa melakukan apapun…. !! Saya tidak tahu, apakah si penabrak lari tersebut dihantui oleh rasa bersalah, atau malah merasa bangga telah mampu LARI dari tanggung jawabnya…. !!

Saat saya menulis ini, saya hanya berdoa, semoga doa yang diutarakan dari hati dan mulut kecil Hugo atau doa kami sekeluarga didengar oleh Tuhan. Teruslah berjuang, Alan, semoga kamu bisa menjadi Alan yang dulu. Semoga….,lilin-lilin kecil akan terus dinyalakan mengiringi sebuah doa untuk Alan tercinta……

Lille, 13 Maret 2013

by Helene Koloway

PS, tulisan ini dibuat bukan untuk memungut belas kasihan, tapi saya ingin siapapun yang membaca tulisan ini, disadarkan, khususnya untuk penabrak lari, bahwa begitu banyak anak-anak muda yang terengut masa depan dan nyawanya secara sia-sia….!!