Lost in Madrid

Madrid 4 June, saya berniat mengunjungi Prado, salah satu museum terbesar di dunia dengan karya-karya besar pelukis dan pemahat Eropa dari abad ke 12 sampai ke 19.

Untuk menuju ke museum Prado, dengan rute naik metro no. 5, turun di Opera dan lanjut metro no. 2, turun di stasiun Banco de Espana.

Surprise….di stasiun Opera ada pemberitahuan bahwa metro line no. 2 ditutup karena ada perbaikan. Wow…..tentu saja, saya sedikit bingung, karena tidak adanya metro alternatif untuk menuju Prado. Dengan bahasa Inggris bercampur bhs P’cis, saya mendapat jawaban dari petugas, bahwa untuk menuju Prado bisa ditempuh dengan bus no. 363. Bagitu ke luar dari stasiun metro, tampak beberapa bus sedang berhenti di pemberhentiannya. Tapi….tidak ada bus no. 363. Hasil bertanya sana-sini, akhirnya saya mendapat keterangan untuk menuju Prado tidak ada pilihan lain selain jalan kaki.

Dengan smart phone kepunyaan teman saya, maka GPS-pun diaktifkan. Dan tertera angka 2,5 km menuju Prado. Angka km yang cukup jauh untuk ditempuh dengan berjalan kaki, tapi….siapa takut?! Saya harus melewati boulevard yang panjang, dengan butik-butik lokal, dengan model-model baju yang cukup cantik, tapi itu semua cuma sekedar obat capai. Hingga di ujung jalan, saya menemukan sebuah monumen yang cukup megah menyerupai sebuah pintu gerbang, another surprise….Plaza Cibeles. Sebuat monumen yang harus dikunjungi seperti yang tertulis buku lonely planet.

Setelah sempat mengabadikan monumen cantik tersebut, belum tampak juga museum Prado, padahal kaki yang sudah mulai kecapekan ditambah kebelet pipis. Setelah melewati sebuah gedung municipality yang cantik dan tampak taman yang terawat dengan indahnya, sampailah kami di museum Prado.

Museum Prado ini berada di daerah elitenya Madrid, bersebelahan dengan Ritz Hotel. Perkiraan saya akan menemukan antrian yang panjang seperti museum Louvre, tidak saya temukan. Dengan membayar 8 Euro, kita bisa menikmati karya-karya besar pelukis dari Eropa.

Menuju gedung museum, tampak taman dengan rumput hijaunya yang berbukit-bukit dari kejauhan tampak pula chapel Jeronimo. Seperti biasa, untuk memasuki museum-museum besar, harus melewati X-Ray. Setelah melewati screening, dengan segera tujuan selanjutnya WC, melampiaskan hasrat yang tertunda.

Museum Prado sungguh sangat besar, dengan 2 lantai. Di lantai 1 terdapat beberapa sal untuk memamerkan karya lukisan, yang terbagi sesuai dengan kewarganegaraan para pelukisnya. Terdapat pelukis dari Spanyol, Jerman, Perancis, Itali, Inggris dan Belanda. Saya memasuki sal dengan no. 49 yang berlanjut hingga sal no. 58. Di sal no. 56 terdapat sebuah karya besar Bosch, pelukis dari Belanda, “The Garden of Delight.” Di lukisan ini, dengan gaya minimalisnya, Bosch menceritakan kehidupan di dunia, neraka dan surga. Saya dibuat kagum, dengan detail yang dilukiskan oleh Bosch. Sebuah deskripsi sebuah kejadian yang tertuangkan dalam sebuah kanvas yang terlukis dengan indahnya.

Di tengah-tengah sal no. 56 ini, sayapun menikmati karya lain Bosch yang tidak boleh terlewatkan, 7 dosa besar dalam agama Kristen. Semua dilukiskan secara indah, dan detail.

Puas menikmati karya Bosch, sayapun menuju ke sal tempat lukisan pelukis idola saya berada, Raphael. Sekali lagi, saya dibuat kagum dengan lukisan “La Perla”nya di mana ekspresi wajah yang tergambar seperti hidup, khas Raphael. Sayang saya, tidak sempat melihat karya-karya Goya, pelukis terkenal berkebangsaan Spanyol.

Setelah melakukan 2 jam kunjungan di museum Prado, sepertinya tidaklah cukup untuk menikmati keseluruhan koleksi yang ada. Tapi, saya memutuskan untuk ke luar, karena perut yang sudah meronta-ronta untuk diisi, ya….ternyata jarum jam di tangan saya sudah menunjukkan angka 14h30.

Saya tidak tahu harus makan di mana, setelah sempat bertanya kepada petugas museum, mereka menyarankan untuk menuju ke Sol, kependekan dari Sol(eil). Sebuah stasiun metro, yang juga merupakan sebuah alun-alun, karena tidak ada pilihan lain, maka saya kembali menuju sol dengan berjalan kaki. Menyusuri jalan menuju sol, kaki saya sudah mulai terseret-seret, selain karena panas, juga perut yang keroncongan…..!!

Dari kejauhan tampak tenda-tenda menghiasi alun-alun Sol, tenda yang dibuat oleh para demonstran yang telah terjadi beberapa minggu, untuk menuntut perbaikan sistem ketenagakerjaan karena tingginya angka pengangguran di Spanyol. Jangan membayangkan para demonstran yang garang, justru baru kali ini, saya menumpai para demonstran yang bisa bergaya di depan kamera, bahkan menawarkan untuk foto bersama….

Mengunjungi Madrid, ada kejadian lucu yang tidak akan pernah saya lupakan, sekaligus menambah perbendaharaan kata bahasa Spanyol. Hal in terjadi pada saat saya dan teman saya, Rini, memasuki sebuah resto Asia. Teman saya memesan makanan yang tertera di menu “Mamak nasi goreng.”
Saya: “Uno, mamak nasi goreng”
Pelayan resto: “O.K. Uno, mamak nasi goreng, arroz ”
Saya: “No, uno mamak nasi goreng”
Pelayan: “Uno, mamak nasi goreng, arroz”

Diskusi tentang “arroz” ini sempat terjadi 5 kali, dengan mimik bingung, saya berpandangan dengan teman saya, apa yang dimaksud dengan “arroz,” karena didaftar menu, tidak ada kata arroz. Tidak lama kemudian si pelayan pergi mengambil menu dalam bahasa Inggris, di mana arroz yang dimaksud adalah nasi. Ampun….untuk menanyakan apakah akan dihidangkan dengan nasi terjadi diskusi yang cukup lama. Dan yang membuat saya ngakak setelahnya adalah jelas-jelas di menu tertulis “nasi goreng,” lha kok nanya lagi pakai nasi?!

Malam minggu, saya berencana untuk mengunjungi gay bar yang berada di daerah La Latina, tapi akhirnya batal, karena tenaga saya sudah terkuras habis dengan berjalan kaki berkilo-kilo meter sebelumnya. Malam minggu saya habiskan dengan berchit-chat dengan teman jalan saya hingga jam 5 pagi!!

5 June, Minggu pagi, sesuai rencana kami menuju flea market, Rastro, menuju pasar ini, saya nak metro no. 5, dan turun di La Latina, sebuah pasar terbesar di Eropa dengan barang-barang bekas, ataupun barang-barang baru dengan harga murah meriah. Tampak stan-stan dengan berbagai produk asli Spanyol. Saya dibuat terkejut dengan murahnya baju-baju serupa dengan design “Desigual” dengan harga 15 Euro, ataupun sandal, tas kulit dengan harga di sekitaran 20 Euro. Di sini saya kalap melihat begitu murahnya barang-barang tersebut. Tapi, sungguh beruntung, bahwa uang cash saya sudah mulai menipis, yang berarti acara belanja harus berhenti. Sekedar info, bahwa Madrid adalah surga untuk mereka yang hobbi belanja….

Tepat pukul 15h30, saya kembali ke hotel untuk mengambil barang-barang yang saya titipkan pada saat check out di pagi hari. Tidak terasa, jam di tangan telah menunjukkan angka 16h15, mengejar pesawat yang berangkat jam 18h30, dengan tergesa-gesa, sambil menarik tas bawaan yang menggelembung, saya menaiki metro menuju airport….tapi, sial….saya menaiki metro yang salah, yang membuat saya harus berganti metro lagi. Dan saya beruntung, karena telah melakukan online checking, tiba di airport, saya hanya punya waktu 45 menit leyeh-leyeh sebelum pesawat take off menuju Paris…., tepat pukul 18h30, pesawat take off meninggalkan bandara Barajas.

Au revoir….Madrid!!