Madrid

Acara jalan-jalan ke Madrid, muncul secara iseng hasil ngobrol dengan seorang teman di awal bulan Februari untuk mendapatkan “me time.” Awalnya teman saya, Rini, mengusulkan untuk ke Italy, sedangkan saya menginginkan ke Praha, tentu saja dengan alasan yang sama, belum pernah ke sana. Tapi, ke-2 tempat itu akhirnya kami coret, karena Rini berencanca dengan keluarganya ke Praha pada bulan April, sedangkan saya telah beberapa kali melakukan perjalanan ke Italy. Muncullah ide untuk ke Spanyol, pilihan jatuh antara Barcelona dan Madrid, dan kami memutuskan ke Madrid dengan alasan, Madrid less touristic.

Kami memutuskan untuk berangkat tgl 2-5 June, bertepatan dengan libur nasional, yaitu kenaikan Isa Almasih yang jatuh pada hari Kamis, dan para suami tercintah memutuskan mengamil cuti hari Jum’at untuk menjaga anak-anak tercinta. Dengan harga tiket juga hotel dengan yang cukup murah, yaitu 75 Euro/malam untuk 2 orang, terbanglah kami ke Madrid.

Tanggal 2 June jam 16h00, setelah 2 jam perjalanan dari Paris, sampailah kami di bandara Barajas Airport, Madrid. Di bandara kami memutuskan untuk membeli tiket metro seharga 20 Euro untuk 5 hari. Karena metrolah alat transportasi yang akan kami pakai selama di Madrid.

Hotel NH Embajada, tempat kami menginap berada di pusat kota. Dari stasiun Barojas yang berada di airport, kami naik line no. 2, ganti di stasiun Nuevos Ministerius, dilanjutkan dengan metro no.10 (blue color), turun di stasiun Alonzo Martinez. Surprise…..hotel NH Embajada ini, hanya 200 m dari stasiun Alonso Martinez!!

Setelah chek in, dan beristirahat sejenak, kami memutuskan untuk mengunjungi taman Parque del Buen Retiro, atau yang lebih dikenal dengan park El Retiro. Taman terbesar di Madrid, yang merupakan milik kerajaan Spanyol di abad ke 16. Maka, tidaklah mengherankan, jika di taman ini, kita akan menjumpai Palace dan patung-patung dari para raja-raja Spanyol di abad ke 16.

Di sore yang cukup berangin, saya menikmati keindahan taman dengan duduk di sebuah kafe yang menghadap danau buatan ditemani secangkir capucino beraroma cinamon dengan mengamati tingkah laku para pangunjung taman dari anak-anak kecil yang berkejar-kejaran memberi makan bebek dengan orang tuanya, ataupun pasangan-pasangan yang menikmati keromantisan taman dengan saling berciuman…..

Rencana untuk menikmati Flamenco di malam pertama gagal, karena tiba-tiba sinus teman saya kambuh. Maka, acara malam itu, kami habiskan dengan menikmati di depan TV.

Hari ke-2, Plaza Mayor, salah satu bangunan history yang layak dikunjung’in. Plaza Mayor yang merupakan alun-alun terbesar yang berada di pusat kota Madrid. Plaza Mayor yang berbentuk persegi panjang ini, dengan panjang 129 m, dan lebar 94 m. Sebuah bangunan history yang mirip sebuah “fort.” Di sini, kita akan diajakan menyaksikan berbagai atraksi dari para artis jalanan, yang kadang kala membuat kita tersenyum ataupun yang kelihatan sangat konyol….!!

Dari Plaza Mayor, tujuan kami adalah Plaza de Oriente. Kami memutuskan untuk berjalan kaki. Di sepanjang jalan, saya dibuat kagum dengan bangunan-banguan bergaya renaissance, membuat saya teringat akan bidak-bidak catur!!

Di tengah udara yang cukup panas, perut kami sudah berteriak-teriak minta diisi, karena jarum jam sudah menunjukkan pukul 13h30. Di saat kami bingung untuk memutuskan diantara restoran yang bertebaran di sepanjang trotoar, kami melihat sebuah pasar, dengan buah cheris berwarna merah yang tampak menggiurkan, dan ternyata….rasanya lebih manis dari pada di Perancis.

Lagi-lagi surprise….pasar ini adalah pasar terbesar di Madrid, bernama “Marcedo San Miguel”yang dibangun pada awal abad ke 19. Pasar berbentuk persegi panjang dengan dikelilingi kaca, hingga tampak berbagai pedagang di dalam pasar tersebut. Di sini, kita bisa menikmati tapas dengan bahan-bahan yang fresh, wine dan jangan lupa untuk mencoba sangria, dibumbui suasana yang sangat fun dari tingkah laku para turis dari manca negara.

Setelah menikmati tegukan terakhir dari sangria, kami menuju Plaza Oriente, sebuah alun-alun dengan pemandangan taman yang sangat indah ini ada sejak abad ke 18. Untuk menikmati Plaza Oriente, kita bisa masuk dengan membayar harga tiket sekitar 6 Euro. Dan sekedar informasi, untuk masuk Plaza ini, kita akan mendapatkan antrian yang cukup panjang. Siapkan botol air, jika anda mengunjunginya di musim panas.

Puas menikmati Plaza Oriente, kami kebingungan untuk menemukan stasiun metro terdekat. Maka kamipun memutuskan untuk berjalan kaki, kembali ke arah Plaza Mayor. Sekalipun kami mempunyai kendala di bahasa, tapi penduduk Madrid sangat ramah, dengan berusaha menjelaskan semampu mereka, dan tidak lupa dengan senyum yang selalu menghiasi bibir mereka…..

Di malam ke-2 ini, kami memutuskan untuk menonton Flamenco di sebuah club yang bernama “Las Carboneras,” yang berada di dekat pasar Marcedo San Michel. Sebuah club Flamenco terbaik di Madrid. Untuk menikmati tarian ini, lebih baik untuk melakukan reservasi sebelumnya, karena club ini penuh dengan pengunjung, dan kami beruntung, karena mendapatkan sebuah meja, karena pemesan meja tidak hadir di saat pertunjukkan, walaupun kami harus membayar 30 Euro/orang dengan satu gelas sangria.

Begitu kami duduk, sang musisi dan diikuti oleh 3 para penarinya menaiki panggung, dan saya langsung terbuai dengan petikan gitar, alunan lagu dari para musisi. Bulu tangan saya langsung berdiri, begitu, sang penari pertama, ke-2 dan ke-3 mulai melikukkan badannya, dengan iringan alunan merdu sang penyanyi dengan nada yang memilukan hati, dengan liuk-liukan sang penari yang tampak sangat seksi, kontras sekali, antara musik dan koreografi para penari. Tarian ditutup dengan tampilnya seorang penari laki-laki yang tampak sangat macho dan (lagi-lagi) menari dengan seksinya, juga hentakan-hentakan dari sepatunya, dengan iringan tepukan tangan dari para penari wanita membuat para penonton terpesona, dan tepuk tangan panjang terdengar diakhir pertunjukan.