Memburu Fatamorgana

Memburu Fatamorgana (21 January 2011, Memoar – Imania)
Sinopsis

Siapa yang tidak tertarik menjadi bagian dari suatu negara yang gemerlap?
Abu Dhabi yang memiliki julukan sebagai negara fatamorgana, banyak yang menyilaukan pendatang untuk mengadu nasib di sana. Tetapi, bagaimanakah sebetulnya kehidupan ekspatriat di bawah naungan modernitas dan praktik syariat Islam ini?

Chloe, si manja yang merantau untuk menghapus bayangan orang tuanya, menghaturkan seluk-beluk keunikan gaya hidup yang ada, seperti para Emirati yang melepaskan abaya sebelum masuk hiburan malam, perselingkuhan, kehidupan kantor, materialisme berlebihan dan lainnya. Di sana pulalah, ia menghadapi kejadian yang membuatnya mengerti arti hidup, apalagi ketika sahabatnya Entin dikecewakan orang yang dicintainya dan pembantunya Siti yang telah dianggapnya sebagai “kakak” menjadi korban kriminalitas. Tiga saksi dari fatamorgana sebuah gemerlap semu.

Kisah tentang persahabatan, percintaan dan perubahan pandangan hidup. Tak hanya itu, kita juga diajak berkeliling menikmati keindahan sekitar Emirat yang menakjubkan.

Endorsement

“Sangat menarik. Novel ini mengambil tema nyata tentang kehidupan TKW Indonesia di Abu Dhabi. Citra mereka umumnya lekat dengan cerita tentang para pembantu rumah tangga yang menyedihkan, namun ini menggambarkan sisi lain kehidupan dan persahabatan 3 pekerja wanita Indonesia dari sektor yang berbeda dengan segala permasalahan yang mereka hadapi, dibumbui cerita romantis yang menyentuh” – M. Wahid Supriyadi, Duta Besar LBBP RI untuk Uni Emirat Arab

“Dengan latar dan nasib yang berbeda, 3 pekerja wanita Indonesia harus menaklukan gemerlap dan kekerasan hidup Abu Dhabi. Memburu Fatamorgana mengajak kita menguak apa yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya” – Iwok Abqary, penulis buku anak dan remaja

“Memburu Fatamoragana menempatkan perbedaan tabiat, sifat dan budaya pada sebuah wadah yang sama. Sifat tokoh utama dan dunia baru yang menjungkirbalikkan cara pandangnya adalah konflik hebat novel ini, jembatan untuk mengenali kedalaman fatamorgana Abu Dhabi” – Ferry Herlambang Zanzad, penulis, pekerja grafis dan web