Menulis Itu Berjuang


Judul yang saya ambil dari pesan yang diukirkan di buku Rumah Tanpa Jendela yang sengaja saya bawa untuk ditanda tangani oleh mbak Asma Nadia, sang penulis.

Pada waktu kepulangan saya musim panas kemarin, ada keinginan untuk mengikuti workshop kepenulisan. Tapi, sayangnya saya tidak mendapatkan info apapun untuk Surabaya. Hingga hari Jum’at (01 Oct, 2011) kemarin, Ita Sikrit mengirimkan pesan di kotak PM saya, isinya,
salut mbak Helene, pa kabar mbak?

mbak, aku kedatangan tamu, mbak Asma Nadia, beliau penulis (gk tau deh mbak Helene kenal nggak) beliau sih sdh puluhan buku, bukunya juga sdh difilmkan , blabla lah. Nah, aku usul ke anak-anak PPI utk ngadain semacam workshop atau simplenya berbangi tips menulis atau hal2 yg berhubungan dg menulis,kalo jadi sih sabtu mbak, sabtu siang. Mbak Helene kan suka menulis, nah piye mbak, mau ikut gk? mumpung ada pakarnya kita tanya2 ttg nulis mbak.
kalau mbak mau ntar aku kabari lagi yaa

Tentu saja, pesan ini saya balas dengan antusias, yang pada intinya saya tertarik untuk ikut, dan akan datang di acara tersebut. Sekalipun saya telah menelurkan sebuah buku, tapi rasa haus akan ilmu, khususnya di dunia kepenulisan, dengan adanya info ini, seperti mendapatkan oase di padang pasir. Dan acara tersebut akan berlangsung di Universitas Orsay pada jam 13h00.

Komunikasi terus berlanjut melalui sms, karena saya tidak tahu pasti Universitas tersebut, demikian pula Ita. Hingga di pukul 10 malam, Ita memberikan personal kontak dari ketua PPI Paris.  Setelah mengantongi no telp Laras, ketua PPI Paris, sayapun menyiapkan barang-barang yang akan saya bawa. Salah satunya adalah buku Rumah Tanpa Jendela karya mbak Asma Nadia, dengan tujuan untuk ditandatangani oleh beliau. Oh ya, karya mbak Asma yang telah difilmkan adalah Emak Ingin Naik Haji, selain Rumah Tanpa Jendela.

Minggu, 02 Oct, saya mengirimkan sms ke Laras, untuk menanyakan arah menuju Universitas Orsay, dan Laras dengan ramah memberikan ancer-ancer, turun di stasiun mana, juga arah untuk menuju universitas tersebut, dan mengatakan akan menjemput saya di stasiun bis Yvette.

Dengan ancer-ancer tersebut, berangkatlah saya ke Universitas Orsay. Karena rumah saya berada di sebelah Utaranya Paris departemen 95, sedangkan universitas tersebut berada di Selatan, departemen 91, dengan menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam, saya tiba di stasiul Orsay Ville jam 13H15. Saya menghubungi Ita, ternyata Ita dengan rombongan yang terdiri Ilhan, mas Patrick (suami Ita), mbak Asma, dan ibunda mbak Asma masih dalam perjalanan, karena sempat terjebak macet di Paris. Saya menghubungi Laras, tidak ada jawaban pula.

Maka, saya dengan sedikit ragu-ragu, ke luar ke jalan, untuk mencari jalan sesuai dengan ancer-ancer yang diberikan oleh Laras. Untuk menuju ke gedung universitas, dia mengatakan harus melewati jalan menurun, tapi…kok jalan yang saya lewati malah mendaki. Pasti….ada yang salah, batin saya. Kembali telp saya ke Laras tidak terjawab, dan saya beruntung bertemu dengan salah seorang mahasiswa Asia kepada dia saya bertanya, yang dengan baik hatinya mau mengantarkan, hingga di depan stasiun Yvette.

Lagi-lagi….,Laras tidak bisa dihubungi, malah Ita yang kembali menelpon saya, menanyakan keberadaan saya, sekaligus mengatakan bahwa mas Ade, ketua PPI untuk Perancis, telah menunggu saya di depan pintu stasiun Orsay Ville……!! Oh ya, terus terang ini kali pertama saya, ketemu dengan anak-anak PPI, jadi saya tidak akan pernah tahu, wajah mas Ade, Laras ataupun yang lainnya. Jadi, wajar saja, kalau akhirnya cuma berpapasan tanpa saling tegur.

Setelah mbak Asma, sang ibunda mbak Asma, Ita, Patrick, dan Ilhan selesai makan siang, maka acara bagi-bagi ilmu dari mbak Asma berjalan. Yang membuat saya kagum, adalah energi yang dipunyai oleh mbak Asma, karena beliau yang datang langsung dari Salzburg, tidak tampak rasa lelah di wajah beliau. Saya kagum sekali dengan keramahan mbak Asma juga sang ibunda, tidak tampak kesombongan atau besar kepala walaupun nama beliau sebagai penulis cukup diperhitungkan di Indonesia.

Di acara yang hanya berada di pojokan lapangan tennis, mbak Asma memberikan pelajaran, bagaimana membuat tulisan itu  bisa diterima oleh para pembaca, apa yang harus dikembangkan dari thema yang sudah kita punya, kiat-kiat agar tulisan kita bisa diterima oleh penerbit. Salah satu kiatnya adalah, untuk menulis dan tetap menulis. Jika 1 tahun terdiri 12 bulan, dan untuk menghasilkan novel dengan halaman 120 halaman, maka sehari hanya dibutuhkan 3/4 halaman.

Dengan waktu yang cukup singkat, kurang lebih 2 jam, masih banyak ilmu atau kiat-kiat yang ingin saya pelajari, tapi saya percaya, dari keterbatasan waktu yang telah diberikan oleh mbak Asma, akan memberikan semangat untuk selalu menulis….dan menulis dengan lebih baik. So, keep writing…..

Sekali lagi, makasih banyak buat Ita Sikrit….

Montmorency, 04 Oct 2011