Menyusuri Jejak Islam di Paris

Hubungan bilateral antara Paris dengan negara-negara Timur ditandai dengan pertukaran duta besar Perancis dan Kerajaan Ottoman, pada saat pemerintahan Lousi IV.

Pada abad ke 18, Antoine Gailland menerjemahkan  buku “Seribu Satu Malam” memberikan kontribusi dari literasi dan gaya hidup. Hal ini ditandai dengan adanya juga komunitas muslim, juga bangun-bangunan bergaya Oriental. Peninggalan bangunan-bangunan tersebut masih beberapa masih berdiri dan terawat dengan baik.

Sebuah fasad bangunan bergaya Oriental berada di distrik 8 Paris. Berada diantara bangunan bergaya Haussman, perkantoran modern juga tak jauh dari gedung Opera Paris. Sering luput dari perhatian penduduk setempat ataupun turis yang lalu lalang. Bangunan yang dibangun pada abad ke 18, merupakan hammam pertama di kota Paris yang masih berfungsi hingga saat ini.

IMG_0173

IMG_0172 IMG_0171

IMG_0173

Berada di distrik 6, bangunan dengan dinding berwarna coklat menyerupai sebuah benteng berdiri dengan megah. Bangunan dengan arsitekturnya Paul Bigot dibangun pada tahun 1925 -1928 merupakan bangunan historik sejak tahun 1996. Sebuah bangunan bekas perpustakaan art dan arkeologi pada tahun 1917, yang telah berubah fungsi menjadi Institute Art dan Arkeologi hingga saat ini.

IMG_3676

IMG_3721

Berada di ujung jalan di distrik 6 yang dibangun pada tahun 1889-1896 dengan arsiteknya Maurice Yvon, salah satu bangunan terindah arsitektur Islam bergaya Moor yang ada di Paris. Dengan warna dinding pintunya yang dominan berwarna hijau. Sebuah bangunan yang awalnya merupakan sekolah kolonial, sebuah sekolah yang ditujukan untuk para administrator kolonial Perancis. Hingga saat ini, sekolah ini masih berfungsi, dan telah melahirkan politikus-politikus hebat Perancis, salah satunya adalah Presiden Prancis yang baru diangkat, Emanuel Macron….:)

IMG_3723

 

IMG_3740