Menyusuri Lorong Sejarah Kota Surabaya

 

IMG_2354

Dari beberapa monumen bersejarah yang masih tertinggal di kota Surabaya dan terawat dengan baik adalah Hotel Majapahit. Hotel yang terkenal dengan nama Hotel LMS. Hotel yang didirikan pada tahun 1910 oleh Lucas Martin Sarkies yang berkebangsaan Armenia dengan nama Hotel Oranje, dan beroperasi pada tahun 1911. Hotel ini sempat berganti nama sesuai dengan sejarah dan waktu hotel ini berdiri.

Di awal berdirinya menggunakan nama Hotel Oranje, pada masa pendudukan Jepang beralih menjadi Hotel Yamato. Di masa pendudukan Jepang, hotel ini merupakan penjara untuk wanita dan anak-anak Belanda sebelum dikirim di kamp di Jawa Tengah. Dipakai sebagai barak militer hingga Kemerdekaan Indonesia, tanggal 17 Agustus 1945.

Setelah deklarasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, residen Belanda kembali ke Surabaya dan tinggal di sebuah kamar di hotel ini. Dan pada tanggal 19 September 1945, hotel ini adalah saksi bagaimana arek-arek Suroboyo secara heroik memperjuangkan martabat bangsa Indonesia yang telah merdeka dan nyaris direbut kembali oleh Belanda. Dan untuk mengenang perjuangan arek-arek Suroboyo nama hotel ini, berubah menjadi Hotel Merdeka.

Foto Hotel Oranje th 1910

Foto Hotel Oranje th 1910

Walaupun Hotel Majapahit adalah hotel berbintang 5, tapi hotel ini tidak seperti hotel bintang 5 yang berdiri dengan bangunan yang menjulang tinggi. Bahkan tampak sederhana dengan halaman parkir yang kecil. Ketika memasuki lobby hotel, di dinding penerima tamu, tampak foto Hotel Oranje pada tahun 1910. Di mana lobby hotel adalah tambahan setelah hotel ini direnovasi.

Lobby hotel pada tahun 1910

Lobby hotel pada tahun 1910

Menuju kamar-kamar hotel, kita akan melewati sebuah ruang di mana kita bisa menikmati kopi bergaya art deco, dengan plafonnya yang tinggi. Di sinilah tempat penerima tamu pada awal berdirinya hotel ini. Bahkan kursi-kursi berinisial HO adalah kursi asli dari hotel ini. Dengan beberapa foto dari pendiri hotel ini menghiasi dinding dari kafe ini.

Menyusuri lorong-lorong hotel dengan pilar-pilar penyanggahnya bercat putih, seperti menyusuri lorong waktu jaman kolonial dengan taman dengan tanaman dan pohon-pohon yang rindang terawat dengan rapi. Hotel yang memiliki kamar 143 ini didominasi oleh warna putih, dengan perabotannya yang bergaya tradisional.

Kamar 33, atau Kamar Merdeka

Kamar 33, atau Kamar Merdeka

Diantara kamar-kamar tersebut, terdapat sebuah kamar yang dikenal dengan kamar no. 33. Sebuah kamar yang menjadi pusat komando tentara Belanda. Dan di kamar ini mempunyai pintu darurat menuju ke perkampungan. Kamar ini pula saksi bisu pada saat hotel ini saat Bapak Roeslan Abdul Gani, yang meminta penjelasan akan dikibarkannya bendera Belanda di hotel tersebut, yang diikuti perobekan secara heroik bendera Belanda berwarna biru menjadi merah putih oleh arek-arek Suroboyo.

Kamar ini, kini dikenal dengan nama kamar Merdeka yang merupakan kamar dengan type suite. Tidak tampak istimewa dengan kamar berluas 86 m2 ini, tapi ada sejarah yang tidak akan pernah tergerus oleh waktu, walaupun dekorasi ruangan berubah mengikuti jaman.

 

 

IMG_2372

Ruang tamu dari kamar Presidential

Hotel yang tampaknya kecil dari luar ini, ternyata mempunyai kamar Presidential yang luasnya 806 m2 !!! Menuju kamar ini, harus meniti anak tangga berkarpet merah, dengan domenya yang indah. Kamar yang menghadap halaman dalam hotel yang indah, terdiri dari 2 tingkat. Di lantai bawah, terdapat ruang pertemuan/makan yang sangat luas, dan master bed dengan 2 kamar mandi. Salah satu kamar mandinya, lagi-lagi menghadap taman. Dan keistimewaan dari kamar mandi ini adalah adanya lampisan emas pada kerannya. Dan kabarnya ibu Tutut putri presiden Soeharto dan Kartika istri dari presiden Soekarno pernah menginap di kamar seharga 3500 dollar ini…. !!

IMG_2339

Kursi dengan HO initial dari Hotel Oranje

Menginap di Hotel Majapahit ini banyak benda-benda kuno yang terjaga keasliannya. Misalnya handle pintu, kursi ataupun flush di toiletnya. Karena hotel ini mempunyai cerita dengan bangsa Belanda, tidaklah mengherankan jika banyak turis dari Belanda yang menginap di hotel ini.

Semoga hotel yang sempat disinggahi oleh Charlie Chaplin dan mempunyai sejarah heroik bagi arek-arek Suroboyo akan selalu terjaga sebagai monumen bersejarah walaupun kota Surabaya menggeliat menjadi kota metropolitan.