Menyusuri Negeri Tuhan

IMG_9840

Pada pertengahan Jan 2017 yang lalu, saya bersama anggota dari asosiasi yang saya gawangi IKFI (Ikatan Keluarga Franco Indonesia) mengeksplore sebuah negara yang berada di benua Afrika.

Perjalanan kali ini adalah ke Maroko, pilihan ke Maroko atas keinginan dari anggota asosiasi untuk jalan-jalan ke luar Perancis.  Dan Maroko adalah negara pertama yang saya kunjungi di benua Afrika. Anggota sangat antusias dengan trip ke Maroko ini. 21 ibu mendaftar untuk ikut dalam trip ini. Bertambah 1 orang bergabung, setelah berhasil mendapatkan tiket dan hotel yang sama atas usaha sendiri. Maka persiapanpun saya lakukan dengan salah satu pengurus. Persiapan yang kami lakukan dari Paris adalah dari tiket, hotel, hingga excursion ke Ourzazate.

Pada hari H-nya, tanggal 13 Jan 2017, kami berkumpul di bandara udara Orly, siap menuju ke Marrakech. Setelah melakukan checi in, kampun menuju ke boarding room. Kejutan awal terjadi…., untuk melewati boarding room, kami harus melewati antrian yang panjang….bukan hanya mengular biasa, tapi mengular naga….Panjang….sekali….!! Setelah melewati antrian yang panjang untuk pemeriksaan pertama, antrian belum berhenti di sini, berlanjut untuk pemeriksaan bagian imigrasi. Di sini, kami terpisah, karena adanya yang memiliki passport Perancis dan Indonesia. Antrian…..yang panjang tampak di depan saya, padahal pesawat akan berangkat dalam waktu 15 menit lagi….!! Keadaan semakin kacau ketika petugas bandara mengatakan bahwa pesawat menuju ke Marrakech segera berangkat. Kekacauan mulai tampak, banyak calon penumpang yang saling menyerobot untuk bisa segera melewati imigrasi, termasuk saya….!! Lolos dari imigrasi, kembali kami harus berlari-lari menuju pintu keberangkatan yang jauh….nya minta ampun. Sesampai di pintu keberangkatan, banyak dari ibu-ibu yang belum tampak. Paniklah saya….,sayapun menghubungi bendahara di trip ini, juga beberapa ibu-ibu yang lain untuk memastikan apakah ibu-ibu yang tertinggal sudah berkumpul bersama.

Puji Tuhan, pesawat masih menunggu setengah dari penumpang yang belum masuk ke pesawat. Setelah terlambat 30 menit, maka pesawatpun berangkat menuju Marrakech. Perjalanan hampir 4 jam ini berjalan mulus. Berada di bumi Maroko, tampak rumah-rumah berwarna tanah dari atas udara Maroko. Pesawat mendarat dengan mulus.

Sesampai di bandara Manara, Marrakech, tampak sopir yang siap membawa saya dan rombongan ke hotel. Perjalanan menuju hotel tampak kota Marrakech yang modern bermandikan cahaya lampu juga pohon-pohon palm di sepanjang jalan. Marrakech yang berarti Negeri Tuhan dalam bangsa Berber (suku asli dari Afrika Utara) atau juga dikenal sebagai Mutiara Dari Selatan. Dan di kota inilah saya akan mengekspolore keindahannya selama 3 hari…

Sejujurnya, ada rasa kekhawatiran saya dengan perjalanan ini. Karena perjalanan ini adalah perjalanan saya ke benua Afrika, dan banyaknya yang “wanti-wanti” untuk hati-hati selama di sana. Dengan berbagai peringatan, seperti cara berpakaian, makanan, dan banyaknya scammer. Juga, tanggung jawab saya sebagai ketua yang mengatur perjalanan selama di Marrakech.

Acara check in hotel berjalan lancer, masing-masing anggota mendapatkan teman sekamar, walaupun berada di lantai yang berbeda. Hotel tempat kami menginap tertulis di websitenya sebagai hotel berbintang yang menurut standard Perancis sebenarnya adalah hotel bintang 4. Hotel Kenzi Farrah adalah hotel yang cukup besar, walaupun bisa dikatakan sudah termasuk “tua.” Walaupun sudah termasuk tua, hotel ini cukup bersih, service yang memuaskan, dan staffnya yang ramah. Ada beberapa kekurangan di hotel ini, seperti pintu ke balkon yang tidak bisa ditutup, atau beberapa bocor di lavabonya, tapi secara keseluruhan hotel ini cukup nyaman untuk menjadi tempat beristirahat. Apalagi letaknya yang strategis dari pusat kota.

IMG_9886

 

Setelah chek in, saya mengusulkan untuk makan di Jemaa el-Fna. Alun-alun kota Marrakech. Setelah bertanya ke pihak hotel letak dari alun-alun ini, yang menurut staff hotel hanya 15 menit berjalan kaki, kamipun berjalan kaki menuju ke sana. Terjadi “perdebatan” kecil saat berada di perempatan pertama, ada yang mengatakan belok kiri tapi ada juga yang mengatakan lurus. Rombonganpun terpecah menjadi 2. Sebagaian besar bergabung memutuskan untuk belok kiri, dan 4 orang ibu-ibu yang lain memutuskan untuk mengambil jalan lurus. Saya berada di rombongan yang terdiri dari sebagaian besar rombongan.

Menyusuri jalan yang sepanjang jalan tampak hotel-hotel Internasional berbintang 5, pertokoan dengan berbagai merek terkenal, juga berbagai club malam. Dan saya dibuat terkejut melihat adanya casino. Di sepanjang jalan, tampak lampu-lampu jalan dengan berbagai warna berjajar dengan pohon yang rindang. Saya tidak merasa berada di negara Afrika dan negara Islam. Dan ternyata….,dari hotel menuju Jemma el- Fna bukan 15 menit, tapi 45 menit sodara…..!!!

Jemaa el-Fna, adalah alun-alun kota Marrakech, juga terbesar di Afrika. Di sana tampak berbagai kesibukan layaknya sebuah pasar malam. Tampak berbagai kedai-kedai penjual makanan khas Maroko dengan aromanya khas yang kaya akan rempah-rempah. Atau kedai penjual “sate” yang asap dari bakaran daging, ataupun penjual kebab, sangat menggoda untuk mencicipinya. Juga yang jangan sampai terlewatkan untuk mencicipi jus jeruk segar dengan harga yang benar-benar murah.

IMG_9891

Tampak pula berbagai atraksi seperti permainan suling dengan ular, para pemain musik lokal, sampai para pelukis tangan heena. Semua tumplek blek di sini. Saya sempat mencicipi kesegaran jus jeruk, saking asiknya menunggu si penjual, saya tertinggal rombongan, dan pada saat saya menunggu jus, saya didatangi oleh seorang ibu penjual tissue, sayapun membeli 2 plastik tissue. Pada saat yang bersamaan saya didatangi oleh 2 wanita pembuat heena. Di sini terjadi tawaran untuk membuat heena. Saya menolak, karena memang saya tidak tertarik. Tapi, si ibu setengah memaksa menghias tangan saya dengan mengatakan bahwa yang dia gambarkan di tangan saya adalah gratis. Saya tetap menolak, tapi tangan saya tetap dipegang, sedangkan ibu yang satu memberikan tambahan “glitter” di heena yang sudah jadi. Di sini terjadi “pemerasan” secara halus. Si ibu meminta saya untuk membayar heena yang telah dia buat di tangan saya. Dia meminta 300 dirham (10 dirham = 1 euro). Tentu saja saya menolak. Tapi, si ibu tidak pantang menyerah, menyuruh saya untuk membuka tas saya untuk mencari uang di dalam dompet, tentu saja saya tolak, saya katakan bahwa saya tidak punya uang. Si ibu terus memaksa, untung saya punya uang 10 dirham di kantong celana, saya berikan saja uang itu. Dan si ibu itu pergi meninggalkan saya. Tidak dengan ibu yang memberikan glitter, dia tetap mengikuti saya, sambil terus memaksa, tapi saya tetap berjalan dengan hati deg-deg an menuju resto di mana teman-teman saya berada. Begitu saya berada di depan resto, sumpah serapah dilontarkan kepada saya. Duh…., saya sudah tidak peduli dengan sumpah serapahnya, lega….bisa bergabung dengan teman-teman saya. Sayapun menikmati keindahan Marrakech di malam hari dengan memandang menaret dari Masjid Koutoubia yang tampak dari kejauhan, juga kesibukan alun-alun Jemaa el-Fna yang sempat membuat saya deg-deg an.

Tips no. 1, saat menikmati jus jeruk di alun-alun Jemaa el-Fna, jangan pernah membeli tissue kepada ibu-ibu yang menjajakan, lupakan rasa kasihan, karena ini sebenarnya adalah jebakan dari pembuat heena.

 

IMG_9911

Menikmati makan malam dengan makanan khas Maroko benar-benar terpuaskan. Tajinenya, couscous juga domba bakarnya semua terasa pas di lidah. Pukul 11 kami memutuskan untuk kembali ke hotel. Kamipun memutuskan untuk menggunakan taksi. Terjadi tarik menarik antara sopir taksi dengan kami sebagai calon penumpang, bahkan dengan suara tinggi…., benar-benar pengalaman yang tidak akan saya lupakan.Dari berbagai info yang saya baca, bahwa sebelum naik taksi untuk menawar dahulu. Pastikan tujuan kita dengan harga yang telah disepakati.

Tips no 2, sebelum naik taksi pastikan kesepakatan harga, sekalipun dengan taksi resmi. Untuk menghindari bad surprise di saat membayar. Taksi hanya mengangkut 3 orang penumpang maksimum, atau 4 orang dengan sopir. Untuk mengunjungi dari satu tempat ke tempat yang lain, harga maksimum adalah 50 dirham, tidak lebih, minimum 30 dirham.

 

Penasaran dengan casino di Marrakech, tanpa direncanakan, saya dan beberapa teman memutuskan untuk ke casiono. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 23:45. Dengan berdandan a la kadarnya, kamipun menuju casino Mammounia. Salah satu casino yang chic karena berada dalam satu lingkungan dengan hotel historik Mammounia.

Bangunan casino Mammounia, terlihat tampak elegan dengan ukiran di pilar dan langit-langitnya yang berwarna hijau, khas bangunan Maroko. Memasuki casino, tampak berbagai jenis mesin judi dengan jumlahnya puluhan. Di ruangan utama, tampak beberapa meja besar untuk berbagai permainan judi. Tampak pula live musik berjenis musik oriental, dengan penyanyinya yang cantik dengan bajunya yang seksi.

15977854_10206344865740966_4265690009485081998_n

Sayapun, sempat mencoba keberuntungan saya di salah satu mesin judi. Dengan modal 150 dirham atau 15 euro. Karena saya awam dengan casino, seorang teman menjadi tutor saya dalam bermain. Saya sempat mencoba beberapa permainan. Dan…..cling…cling…cling….mesin saya berbunyi tanpa henti. Keberuntungan berpihak dengan saya malam ini. Saya memenangkan sebesar 500 dirham. Uang haram, emang harus dihabiskan untuk bersenang-senang, maka saya mentraktir teman saya untuk menikmati coca-cola. Dan sayapun menikmati segelas mojito. Menikmati minuman beralkohol di Maroko.

Di hari ke-2, setelah makan pagi, beberapa ibu-ibu menanyakan rencana hari itu. Saya yang blank lokasi-lokasi turistik yang akan saya inginkan untuk membawa ibu-ibu. Apalagi dengan rombongan yang lebih dari 10 orang. Di tengah kebingungan saya untuk membawa rombongan, beberapa 4 orang ibu-ibu sudah memutuskan untuk jalan sendiri. Saya benar-benar bingung, untuk mencari guide dan transportasi. Tiba-tiba, seorang ibu memberi info bahwa ada guide resmi di depan hotel. Sayapun menemui sang guide, menawar harga jasa guide dan tujuan yang saya inginkan. Persetujuan harga terjadi, 250 dirham untuk servis sehari, tanpa kunjungan ke toko atau belanja.

Dari hotel, dengan menggunakan taksi, menuju ke masjid Koutuoubia. Sebuah masjid yang di bangun pada abad ke-12. Koutoubia berarti toko buku. Awalnya, pada abad ke 7, di sekitar masjid merupakan tempat para penjual buku menjual buku-buku agama. Hingga pada tahun 1150, khalifa Almohad dari dinasti Berber, dan Abd el-Mu’min yang membangun masjid ini untuk pertama kalinya di area ini.

IMG_9938

Masjid Koutoubia akan kaya histori ini, berada di taman yang cukup luas dan terawat. Masjid Koutoubia yang berwarna merah karena dibangun dengan batu bata dan batu pasir berwarna merah. Masjid ini dibangun dengan perencanaan yang disebut dengan plan T yang berasal dari gaya masjid Kairouan, Tunisia. Dan minaret dari masjid Koutoubia dengan ketinggian 69 meter, dibangun pada tahun 1190. Pada tiap sisinya tampak pahatan berornamen bunga berwarna hijau. Di puncak minaret ini, dipasang juga pengeras suara panggilan sholat, dan jika pengeras suara tidak berfungsi, maka panggilan sholatpun dilakukan dengan pengibaran bendera. Unik….

IMG_9997

Sang guidepun mengajak menyusuri kampung-kampung kecil menyerupai labirin yang lebih dikenal dengan sebutan Medina. Sang guide menuturkan bahwa status sosial warga Maroko bisa dilihat dari pintu-pintu rumahnya, semakin tinggi tingkat sosial seseorang, maka pintu rumahnya terbuat dari kayu yang bagus dan kokoh. Selain itu, ciri khas dari rumah-rumah orang kaya di Maroko adalah adanya riad, atau taman yang berada di dalam bangunan.

IMG_9966

Kamipun dibawa komplek pemakaman dari dinasti Saadiens. Sayang, kompleks pemakaman ini, tidak diperuntukkan bagi non muslim. Dari komplek pemakaman ini, kami menuju Madrassa Ben Youssef. Menuju madrassa ini, guidepun menunjukkan salah satu bangunan yang “tampaknya” sering terlewati oleh turis, walaupun bangunan ini merupakan bagian dari sejarah kota Marrakech, Koubba ba’Adiyn.

IMG_0021

Koubba ba’Adiyn adalah pemakaman yang dibangun oleh Ali Ben Youssef pada tahun 1117. Dan dimusnahkan oleh dinasti Almoravid pada awal abad ke 12. Merupakan bangunan tertua di Marrakech. Bangunan yang berada di bawah tanah ini diketemukan pada tahun 1948. Tidaklah mengherankan jika Koubba ba’Adiyn sejajar dengan jalan raya. Keunikan dari makam ini adalah kubahnya yang terbuat dari batu. Sayang, pada saat saya ke sini, bangunan ini sedang direnovasi.

IMG_0066

40 meter dari Koubba ba’Adiyn berdiri Madrassa Ben Youssef. Sebuah sekolah agama selama beberapa abad. Madrassa ini dibangun pada abad ke 14 oleh dinasti Marinid yang merupakan Islam Sunni. Memasuki Madrassa Ben Youssef, tampak patio yang luas, tempat para murid berwudhu. Tampak pula pahatan di kayu sedar yang menjadi penyangga bangunan ini. Ditiap dindingnya, jendela dan pilar-pilarnya dipenuhi dengan ukiran bergaya Arasbeque.

IMG_0059

Tepat di belakang patio, tampak ruangan tempat belajar sekaligus tempat berdoa. Di mimbar atau podium, tampak langit-langitnya dihiasi dengan ukiran Muqarnas. Murqanas dalam bahasa Indonesia adalah kubah stalaktit. Juga tulisan-tulisan Arab, di beberapa sudut dinding yang “bismillah.” Di lantai 2 yang merupakan asrama bagi para santri, tampak juga patio kecil, yang memudahkan sinar matahari masuk dengan bebas. Asrama ini terdiri 130 kamar, yang mampu menampung 900 para santri. Para santri bisa menikmati pemandangan patio utama yang berada di lantai dasar dari jendela kecil yang berada di masing-masing kamar.

15994434_10154946125789393_2421500309055607955_o

Credit foto: Lisda Calmon

Madrassa Ben Youssef dibangun kembali oleh dinasti Saadiens, pada saat pemerintahan Sharif Ghalib Saadi Abu Muhammad, tahun 1517-1574. Merupakan salah satu bangunan tertua setelah Koubba ba’Adiyn. Juga, merupakan satu-satunya monumen Islam yang boleh dikunjungi bagi non muslim.

Saking kagumnya dengan keindahan bangunan ini, saya sempat tertinggal rombongan. Untung, salah satu teman kembali memanggil nama saya, begitu mengetahui saya tidak ada dalam rombongan. Kamipun melanjutkan perjalanan menuju souk atau pasar. Menuju souk kami kembali kami harus melewati jalan kecil bak labirin. Tiba-tiba saya sadar, bahwa salah seorang teman tidak ada dalam rombongan. Paniklah kami, mencari teman tersebut. Sayapun mengatakan kepada guide kami. Tanpa ba bi bu, sang guide berjalan cepat, putar balik ke arah madrassa. Sayapun berlari-lari mengikuti langkah cepatnya. Tiba-tiba, dia dengan suara lantang menegur seorang ibu untuk segera berkumpul dalam grup. Sayapun mengatakan bahwa ibu tersebut tidak dalam grup. Sesampai di madrassa, sayapun memanggil-manggil nama teman saya tersebut. Dengan wajah panik, teman saya muncul. Lega…., saya tidak bisa membayangkan jika teman saya terpisah dalam grup…..:(

IMG_9991

 

IMG_0024

Menyusuri souk, saya membayangkan seperti kembali ke peradaban pertengahan. Ya….,karena souk ini ada sejak abad ke 11. Layaknya pasar, souk ini terbagi dalam berbagai jenis. Souk yang menjual keperluan sehari-hari, dari baju, souvenir hingga rempah-rempah. Juga souk tempat menjual kambing, juga menjual kulit hasil penyamakan. Yang membuat unik dari souk ini adalah jalan kecil yang berkelok-kelok…. Untuk berbelanja di souk, jangan ragu-ragu untuk menawar….!!

Tips no 3, jika tidal berniat berbelanja, usahakan untuk tidak memegang barang yang dijajakan. Karena, kita akan dikejar oleh sang pedagang hingga kita membeli dagangannya. Jangan sekali-sekali tertarik untuk melihat tawaran apapun dengan memegang barang yang ditawarkan, baik berupa barang atau jasa. Tolak secara sopan.

Setelah puas menyusuri souk, sang guide mengajak makan siang. Ampun…., saya tidak tahu berapa jauh kami harus berjalan, menyusuri jalan-jalan kecil. Kaki-kaki kamipun juga sudah terasa pegal setelah seharian berjalan kaki. Lebih dari 20 menit, akhirnya kami sampai di resto lokal. Rasa capai segera hilang, saat makanan pembuka dihidangkan, menyusul makanan utama, yang luar biasa lezatnya.

IMG_0124

Acara makan siang, semakin meriah, ketika musik yang cukup kencang terdengar. Soerang gadis cantik dengan baju khas oriental menari mengikuti iringan musik, pertunjukan tari perut. Wow…., kamipun ikut berjoget mengikuti gerakan yang diperagakan sang penari. Seru…..!! Saya dibuat “kagum” dengan harga makanan yang kami bayarkan yang relatif murah dengan porsi yang luar biasa banyaknya.

Tips no. 4. Rumah makan di Maroko tidak mengenakan tax service, maka pihak resto akan meminta untuk memberikan tip. Dan pihak resto tidak pernah menentukan berapa besarnya tip yang harus diberikan.

Kunjugan saya berakhir setelah makan siang, kembali ke hotel. Sedangkan teman-teman saya melanjutkan ke tempat pembuatan minyak Argan. Masih banyak tempat-tempat cantik yang saya ingin kunjungi di Marrakech, tapi kaki saya sudah gempor. Ternyata umur tidak bisa berbohong…..Selain itu, saya juga harus menyiapkan stamina saya untuk besok, mengunjungi Ourzazate…..!!

Bersambung