Mereka Juga Punya Mimpi

Setiap kali pulang kampung perasaan prihatin selalu hadir, di saat melihat anak-anak dengan bertelanjang kaki, dengan tangan-tangan kecilnya menjajakan koran, ataupun anak-anak diusia 12-14 tahun, dengan alat musik seadanya menyanyikan lagu-lagu dangdut, ataupun lagu-lagu karya mereka sendiri.

Hingga satu saat, salah seorang kenalan bercerita bahwa dia baru saja pulang dari India, selain untuk berlibur, juga menengok sang mertua yang tinggal di sana. Wow…., saya sempat terkejut, jarang sekali seorang pensiunan yang tinggal di India, kebanyakan mereka tinggal di daerah yang lebih ramai, pinggir pantai, seperti Thailand. Dan berceritalah kenalan saya tersebut, bahwa sang mertua mengelelola sebuah yayasan di India, untuk anak-anak tidak mampu. Mertua teman saya itu mencari sumbangan dari mereka-mereka yang tinggal di Perancis, dan disumbangkan untuk anak-anak tersebut.

Atau salah seorang kenalan lain bercerita, bahwa dia baru pulang dari Mali, Afrika, untuk menengok anak-anak asuhnya yang berjumlah 5 orang. Ternyata….,begitu banyak kenalan-kenalan saya yang mempunyai anak asuh, dan kebanyakan anak-anak asuh mereka berasal dari benua Afrika.

Mendengar ke-2 cerita teman saya, pipi saya seperti tertampar. Malu…., saya yang selalu mengatakan begitu cinta dengan Indonesia, tidak mampu untuk melakukan seperti apa yang dilakukan ke-2 kenalan saya tersebut. Padahal begitu banyak anak-anak jalanan di Surabaya, ataupun di kota-koat lain di Indonesia ini yang membutuhkan uluran tangan. Saya ingin memberikan sedikit dari apa yang saya punya, saya ingin berbagi. Dan sebuah niât baik selalu akan didengar oleh sang pemilik hidup. Rejeki itu diberikan olehNYA.

Ke mana saya akan memberi sumbangan itu? Yayasan mana akan saya salurkan sumbangan itu? Hingga, saya menemukan sebuah sanggar. Sanggar Alang-Alang, sebuah sanggar yang diasuh oleh bapak Didit.

Medio July 2011, saya bertemu dengan pak Didit untuk ke-2 kalinya, pendiri Sanggar Alang-Alang. Sanggar yang didirikan sejak tahun 1999 ini karena kepedulian bapak Didit dengan anak-anak di sekitar terminal Wonokromo yang banyak di jalan dan menjadi korban kerasnya kehidupan terminal. Pak Didit, mengutarakan philosophi yang beliau pegang dan tanamkan kepada anak asuhnya, “Mengamen adalah pekerjaan rendah, tapi ada yang lebih rendah dari sekedar mengamen, yaitu menengadahkan tangan,” katanya dengan suara yang dalam. Program yang diterapkan di sanggar ini, selain memberi bekal anak-anak jalanan yang sebagian besar adalah pengamen ini dengan bermain musik, dan budi pekerti, juga memberikan bantuan untuk pendidikan.

Beberapa anak asuh dari sanggar ini telah ke luar dari kehidupan jalanan dengan berhasil di bidang tarik suara, seperti grup Kelanthing, ataupun finalis Idola Cilik, Siti, yang telah kehilangan adiknya di jalan, atau salah satunya yang saya lupa namanya, telah menjadi petinju nasional dan sedang kuliah di UNESA.

Di sanggar ini, saya bertemu seorang bocah, Ferry, 12 tahun, di sela-sela waktu belajar dan bermain, dia turun ke jalan untuk mengamen. Dengan hasil mengamennya yang tidak lebih 10-15 ribu, dia membantu ke-2 orang tuanya. Di mana sang ibu adalah buruh cuci, dan sang ayah pengumpul barang bekas. Penata panggung adalah cita-cita Ferry.

Ada pula Shanti, seorang gadis manis berkerudung yang duduk di bangku kelas 2 SMP. Putri tertua dari 3 bersaudara, dari seorang ibu buruh cuci dan ayah tukang becak mempunyai prestasi yang membanggakan, selalu berada di posisi 3 besar di sekolahnya. Shanti adalah “mantan” anak jalanan, karena rasa malu. Dan adik-adiknyalah yang menggantikan posisinya di jalanan untuk membantu ke-2 orang tuanya. Dengan kesederhanaannya, Shanti mempunyai cita-cita sebagai akuntan.

Mendengar cita-cita ke-2 adik-adik kecil saya itu, ada rasa keharuan yang tertinggal. Di tengah-tengah lalu-lalang kendaraan, di tengah kerasnya kehidupan, begitu banyak Ferry, atau Shanti yang lain, karena keterbatasan biaya dan keadaan, berjuang untuk meraih cita-cita mereka. Bukan karena keinginan mereka untuk hidup di jalan, tapi keadaanlah yang memaksa mereka untuk hidup di jalan, dan kita, mari saling bergandeng tangan membantu mewujudkan cita-cita adik-adik kita…..Dan lagu Kasih Ibu yang mereka perdengarkan lewat permainan angklung untuk persiapan Hari Anak tanggal 23 July lalu, masih tergiang di telinga saya hingga saat ini.

Alang-alang, rumput liar yang tumbuh di mana saja

Sama seperti kami anak jalanan. Akan berubah tergantung siapa yang memegang

– Didit HP –

By Helene Koloway, 12 Agustus 2011