(Not) Money Talk

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi sebuah butik dari sebuah merek terkenal….,selain terkenal ama mereknya, juga terkenal karena mahalnya….Eits…,jangan salah dulu ya…,saya ke sana bukan untuk belanja dari produk mereka, saya ke sana dikarenakan seorang teman menginginkan sebuah tas idamannya.

Untuk masuk ke butik tersebut, saya harus mengantri selama 10 menit, awal yang menyenangkan…..!! Dan begitu masuk, saya harus menunggu (lagi) karena para karyawan butik tersebut disibukkan dengan costumernya….dan saya menggunakan waktu saya dengan melihat-lihat produknya yang harganya selangit….itu. Sekaligus saya melihat dan mencuri dengar pembicaraan para costumer dan para karyawannya.

Tidak jauh dari saya berdiri, tampak sepasang orang Asia yang tengah menyelesaikan transaksinya, di mana sang karyawan tengah membuat invoice dari sebuah tas, yang saya sendiri kurang tahu harganya, hingga….terjadi percakapan yang diiringi dengan intonasi tinggi dari si pembeli. Dari pembicaraan yang sempat saya dengar, nilai tas yang akan dibeli pasangan Asia tersebut 20.000 Euro, dan mereka akan membayar secara tunai….!! Yang mana oleh karyawan tersebut ditolak, karena adanya peraturan di Eropa bahwa mereka tidak dibenarkan untuk menerima pembayaran secara tunai lebih dari 10.000 Euro….Yang pada akhirnya, si pembeli ke luar dengan marah-marah…..Saya yang melihat adegan tersebut hanya bisa cekikikan dengan teman saya. Ternyata…., dengan uang sebanyak 20.000 Euro di tangan, mereka tidak bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Moral of this story, bukan karena uang ada di tangan kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan, apalagi kebahagian….

Montmorency, 16 January 2013

Foto diambil dari http://caricaturist.wordpress.com/tag/lady/