Nous Trois Ou Rien

Capture d’écran 2016-01-03 à 20.17.21

Sebuah film yang berdasarkan kisah nyata dari penulis skenario film ini sendiri, Khaeron Tabib.

Film yang menceritakan tentang Hibat seorang laki-laki dari 11 bersaudara yang berasal dari Iran. Di mana Hibat sejak kecil sudah tampak “kecerdikannya” atau kepandaiannya.

Menginjak dewasa, Habit menjadi aktivis yang menentang rezim Shah Iran Pahlevi. Karena kegiatannya yang menentang kediktatoran Shah Iran, dia harus membayar mahal dengan mengorbankan kuliahnya di bidang hukum dengan berada di balik jeruji sebagai tahnan politik salera 7 tahun…!! Habit yang berpawakan kecil tapi mempunyai karakter dan idealis yang sangat kuat. Dia harus bertahan berbulan-bulan di bilik kecil, mendapat pukulan-pukulan hanya karena dia menolak memakan kue yang diberikan oleh Shah Iran untuk merayakan ulang tahunnya yand diberikan kepada para tahanan.

Dia bertahan dengan kekerasan yang dia terima, satu kata-kata yang saya ingat ketika dia bertahan untuk tetap bungkam dalam perlawanannya. “Mereka bisa membunuh badan saya, tapi mereka tidak bisa membunuh jiwa saya….” Habit bebas menjadi tahanan politik saat kejatuhan rezim Shah Iran. Kegembiraan tersebut hanya sejenak, ketika Iran di bawah kepemimpinan Ayatullah Khomeini. Kembali dia berjuang melawan rezim yang mengusung agama di dalam pemerintahan yang baru ini.

Di saat dia sedang berjuang memperjuangkan kediktatoran yang baru, dia bertemu dengan Ferestheh, wanita cantik, berpendidikan dan dari keluarga berada juga seorang aktivist. Perjumpaan yang singkat, berlanjut ke pelaminan. Pasangan yang mempunyai persamaan dalam ideologi, berjuang untuk mengembalikan Iran seperti sebelum rezim Shah Iran, atau Ayatullah Khomeneini. Mempunyai kehidupan yang mapan dan layak.

Perjuangan yang (lagi-lagi) harus dibayar mahal oleh mereka berdua. Menjadi incaran para penguasa, yang membuat mereka melarikan diri dari tanah kelahiran mereka dengan bayi mereka. Perjalanan darat yang panjang melalui Turki, hingga sampai di Perancis.

Bayangan akan tinggal di Paris seperti di Iran tinggallah impinan semata. Mereka tinggal di suburbnya Paris yang kumuh, bercampur dengan para pendatang yang lain. Tapi, keadaan mereka yang harus dimulai dari awal, tidak membuat patah semangat. Mereka merubah nasib mereka dengan bekerja keras, bahkan mereka membangun daerah kumuh di mana mereka tinggal, menjadi daerah yang “beradab.” Hibat berhasil menyadarkan anak-anak muda melawan kekerasan, menjadikan orang-orang yang merasa dihargai.

Sebuah film drama komedi tentang kemanusiaan, perjuangan yang diceritakan tanpa harus menguras air mata. Sarat dengan pesan dan filosofi dari negara Persia yang bermakna. Melihat film ini, saya seakan diajak untuk berkunjung dan menikmati budaya dari negara yang indah, Iran. Dan saya memberikan bintang 5 untuk film ini…..!!

 

*foto diambil dari gugel*