Saat Paris Menangis…..

“You may say I’m a dreamer, but I’m not the only one.

I hope someday you’ll join us. And the world will live as one.” – Imagine

Capture d’écran 2015-11-17 à 14.02.14

Jum’at, 13 Nov 2015, saya melihat jam tangan saya. Jarum jam telah menunjukkan pukul 22:10. Dengan segera saya berpamitan kepada teman-teman yang masih berada di Sasana Budaya, KBRI Paris. Ya….malam itu, saya menghadiri acara yang dilakukan oleh Diaspora France dengan thema berkebun di negara 4 musim.

Dengan segera saya ke luar halaman KBRI bersama 2 orang teman saya. Saya harus segera pulang karena saya harus mengejar kereta yang menuju ke rumah saya. 1 dari teman saya, Sisilia naik bis, sedangkan saya bersama teman saya, Rini, lanjut menuju stasiun metro (kereta bawah tanah). Karena kami naik metro no. 9 yang sama. Metro yang awalnya lenggang dari penumpang, tiba-tiba di stasiun Trocadero (stasiun terdekat menuju menara Eiffel) penuh oleh manusia. Saya hanya berpikiran bahwa penumpang yang baru masuk adalah turis yang baru mengunjungi menara Eiffel. Menara jujugan para turis dari penjuru dunia.

Di stasiun Franklin-Roosevelt, teman saya turun untuk melanjutkan dengan metro no. 1 menuju ke appartementnya di Paris. Sebelum turun, kamipun sempat cium pipi kiri-kanan, ciuman khas Parisien (sebutan untuk warga Paris) yang kami lakukan, sambil mengucapkan salam perpisahan. Tak lupa ucapan untuk berhati-hati. Sayapun melanjutkan perjalanan sendiri, untuk berganti di stasiun berikutnya, ke stasiun Republique, sebelum berganti dengan metro no. 5.

3 stasiun sebelum stasiun dari Republique ada pemberitahuan, bahwa metro tidak berhenti di beberapa stasiun, tapi yang saya masuk dalam kepala saya, hanya stasiun Republique, tidak dijelaskan alasannya.

Penumpang banyak yang turun setelah pengumuman tersebut, sedangkan saya terus melanjutkan perjalanan dengan harapan saya akan berhenti di stasiun Oberkampf, tapi…di Oberkampf pun tidak berhenti. Sayapun mulai khawatir, karena tidak ada lagi koneksi metro untuk menuju ke rumah saya setelah itu. Tapi, saya masih berpikir tenang, turun di stasiun berikutnya (Saint-Ambroise), mengambil metro dengan arah yang berlawanan. Dengan tujuan, saya akan mengambil metro no. 4.

Iseng saya membuka FB dan membaca sebuah pesan masuk dari seorang teman yang tinggal di Indonesia, dengan memberikan link yang berjudul “Penembakan di Paris” diikuti dengan menanyakan kabar saya. Saya tidak sempat membuka link yang diberikan oleh teman saya, perasaan was-was datang dalam diri saya.

Saat saya di dalam metro, tiba-tiba telp dari teman saya masuk. Dengan suara khawatir, dia menanyakan keberadaan saya, diapun menyuruh saya untuk segera pulang. Bersamaan suami saya menelpon, pertanyaan dan kabar yang sama diberikan oleh suami saya. Hati saya mulai khawatir bercampur takut.

Ternyata….stasiun di mana saya akan berhenti, juga ditutup….!! Rasa ketakutan semakin terasa menjalar di diri saya, walaupun akal jernih saya tetap berjalan. Dengan suara tersendat-sendat, saya menanyakan kepada seorang pemuda apakah dia tahu dengan apa yang terjadi di Paris. Diapun menanyakan kemana tujuan saya. Sayapun mengatakan bahwa saya akan ke Gare du Nord. Diapun menyarankan untuk naik taksi. Kembali saya bertanya, apakah ada taksi? Diapun meyakinkan saya, taksi pasti ada, dan si mas mengatakan, jika tidak ada taksi saya bisa jalan kaki dari stasiun Bonne Nouvelle (stasiun saya berhenti) ke Gare du Nord, hanya 15 menit, katanya. Tapi….,saya takut, itu yang ke luar dari mulut saya. Dengan wajah iba, dia meyakinkan saya, bahwa pasti ada taksi yang mau mengantarkan saya ke Gare du Nord.

Maps metro no. 9, di mana saya melewati 2x zone tragedi Paris (stasiun Republique, Oberkampf)

Maps metro no. 9, di mana saya melewati 2x zone tragedi Paris (stasiun Republique, Oberkampf)

Ke luar dari stasiun Bonne Nouvelle, mata saya mencari tanda pangkalan taksi. Di tengah kebingunan saya, pemuda tersebut, mendatangi saya, dan mengatakan untuk mengikuti dia, untuk ditunjukkan di mana pangkalan taksi berada. Sesampai di seberang pangkalan taksi, tampak sebuah taksi berada, dengan segera pemuda tersebut lari, menyeberang untuk memberhentikan taksi tersebut. Tapi, seorang ibu lebih dulu naik ke taksi tersebut. Dengan mengangkat tangannya dia meminta maaf, dan kembali meyakinkan saya bahwa banyak taksi yang lewat di tempat tersebut.

Tampak beberapa gerombolan orang yang juga kebingungan untuk menuju ke rumah masing-masing. Taksi-taksi yang lewat menolak untuk mengantarkan penumpang yang mulai berjejer menunggu taksi lewat. Kembali rasa telp dari suami saya berdering dan menanyakan keberadaan saya. Ketika saya mengatakan bahwa saya berada di Boulevard St. Denis, dengan suara gusar dia mengatakan, “Helene…ke luar kamu dari Paris. Ke luar dari tempat itu…!” Dengan air mata yang mulai turun saya bertanya, “P-J, ke mana saya harus pergi?? Ini nggak ada taksi….” Kembali P-J, mengatakan, “Helene, kamu berada tidak jauh dari tempat kejadian, segera ke luar dari Paris, jauhi tempat kamu berada saat ini….!!”

Dan teman saya di Indonesia beberapa kali mengingatkan lewat pesan singkatnya ketika mengetahui keberadaan saya, untuk tidak panik, dan tetap berada digerombolan. Di tengah ketakutan saya, untung pikiran jernih saya masih jalan. Sayapun mengatakan kepada P-J bahwa saya akan ke rumah salah seorang teman saya, Sophia, dan P-J bisa menjemput saya di sana.

Sembari menekan nomor telpon Sophia, sayapun berjalan menuju ke stasiun metro. Ya Tuhan…., stasiun metro ditutup….!! Saya panik…., saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan…. Telepon tersambung, dengan suara terbata-bata dan air mata yang mulai mengalir deras, sayapun berbicara kepada suami teman saya tersebut, bahwa saya berada di luar, dan mengatakan untuk bisa ke rumah mereka, sambil mengatakan bahwa saya tidak tahu bagaimana harus sampai ke rumah mereka. Tidak ada metro, tidak ada taksi….!!

Dengan suara khawatir, suami teman saya menenangkan saya, dan mengatakan bahwa mereka akan menjemput di mana saya berada. Antara rasa sungkan dan terpaksa, sayapun mengatakan di mana saya berada. Suami teman sayapun semakin khawatir, ketika mengetahui di mana saya berada.

30 menit saya menunggu suami teman saya datang…, 30 menit saya sempat melihat di mana saya berada. OMG saya berada di red areanya Paris….!! Boulevard St-Denis, daerah yang boleh dibilang sering dihindari oleh warga Paris, jangankan di siang hari, apalagi di malam hari. Tempat yang sempat saya kunjungi beberapa hari yang lalu, yang foto-fotonya sempat saya bagikan di FB.

Tak tampak mobil berlalu-lalang, hanya suara sirene ambulans memecah malam yang dinign, dan jarum jam telah menunjukkan pukul 23:15. Air mata saya tidak ada henti bercucuran. Takut, khawatir, panik….bercampur jadi satu.

23:30, tampak mobil teman saya. Dengan segera saya masuk dan mengucapkan terima kasih, dan kembali saya meminta tolong apakah saya bisa menginap di rumah mereka malam itu. Dengan tangan terbuka dan tulus mereka mengijinkan saya untuk bermalam di appt mereka malam itu.

Teman saya membawa air putih, minuman bersoda untuk menenangkan saya yang masih terus mencucurkan air mata saya. Menuju ke appt teman saya, kamipun melewati tempat turistik. Place Vandome yang biasanya penuh dengan turis yang menikmati Paris di malam hari tak tampak seorangpun di sana. Menara Eiffel, dengan lampu yang menyinarinya seolah-olah tak ada yang menghiraukan kecantikannya. Sepeda yang lewat melaju dengan kencang diantara mobil yang tak kalah kencangnya diantara suara sirene mobil polisi dan ambulans. Paris benar-benar mencekam……

Ada perasaan lega, saat memasuki apartemen teman saya. Teman-teman saya yang diliputi rasa was-was membaca ketakutan saya di FB, pun merasa lega. Suami dan anak-anak sayapun lega mendengar saya telah berada di tempat yang aman.

Tanda bintang, posisi saya berada menunggu Sophia

Tanda bintang, posisi saya berada menunggu Sophia

Sabtu pagi, P-J pun menjemput dengan motornya. Saat itulah, P-J, juga suami teman saya yang melihat di internet, melihat bahwa sebenarnya saya berada “hanya” 500-700 meter dari Theatre Bataclan, dan melewati 2 kali stasiun yang tidak jauh dari tempat kejadian tragedi penembakan dan pemboman….!!

Pulang ke rumah Sabtu siang, jalanan Paris yang selalu penuh dengan mobil terasa lenggang, tak tampak kemacetan, ataupun motor yang biasa meliuk-liuk diantara mobil yang lewat. Semua terasa lenggang….Duka tampak di Paris, kota yang tak pernah tidur ini. Masyarakat memilih untuk tinggal di rumah, mengikuti berita di mana korbannya yang semakin bertambah….

Seharian saya shock dengan apa yang alami Jum’at malam tersebut. Saya tak mampu berkata apa-apa. Air mata terus mengalir setiap kali menceritakan kejadian yang saya alami. Saya baru menyadari, bahwa malam itu, saat saya menunggu teman saya datang, saya benar-benar sedih…., saya merasa sendiri….Sendiri di tengah kekhawatiran dan ketakutan. Dan sayapun beberapa minggu yang lalu, baru saja jalan-jalan di daerah tragedi itu terjadi….:(

Beberapa teman saya menelpon menanyakan kabar saya, mereka tidak bisa membayangkan seandainya mereka di situasi yang seperti saya alami. Beberapa sahabat terdekat sayapun kaget mendengar suara saya ditelp yang biasanya lantang, ceria, tampak ada rasa ketakutan yang tertinggal, dia tidak mengenal Helene yang biasanya. Dan Sophiapun mengatakan kepada suaminya, bahwa saya tidak akan merepotkan mereka jika tidak terpaksa seperti hari Jum’at yang lalu.

Bahkan, saat Minggu malam, P-J minta tolong untuk diantar ke stasiun terdekat hari Senin pagi jam 04:30, saya menolak. Saya katakan bahwa saya takut….!! Dan P-J pun meyakinkan saya, bahwa semua akan baik-baik.

Dengan apa yang saya alami Jum’at malam tersebut, dalam situasi yang tidak mengenakkan, saya bisa membayangkan mereka-mereka yang berada di tempat kejadian. Mereka yang telah kehilangan orang-orang terkasihnya. Orang-orang yang tak berdosa. Anak-anak muda yang sedang menikmati grup musik favorit mereka. Anak-anak yang kehilangan ibunya, bapaknya, orang tua yang kehilangan anak-anaknya. Dan yang menjadi korbannya bukan hanya orang Perancis yang berkulit putih, tapi ada juga bangsa lain yang telah menjadi WN Perancis, bukan hanya para Nasrani, tapi juga ada kaum Muslim yang telah menjadi korban. Dan sayapun melihat bagaimana solidaritas masyarakat Paris yang tinggi di malam yang mencekam itu.

Paris berduka…Duka yang bukan hanya milik warga Perancis. Duka yang dirasakan oleh berbagai bangsa. Duka akan kemanusiaan. Duka yang akan terus dirasakan oleh keluarga para korban. Duka yang akan dirasakan dan berat dijalani oleh kaum Muslim di Perancis dan berbagai belahan dunia dengan aksi barbar yang dilakukan oleh orang-orang biadab yang menggunakan kedok agama Islam.

Semoga kekerasan di berbagai belahan dunia akan segera berakhir. Tidak ada lagi aksi-aksi brutal yang mengatas namakan golongan, agama dan politik.

Jika ada yang menanyakan bagaiman keadaan saya saat ini. Memang trauma itu masih tersisa, tapi….life must go on, temans….
*Foto diambil dari gugle.