Seimbang dengan deg-degannya

Sesuai dengan rencana, tanggal 12 February adalah acara bedah buku Memburu Fatamorgana yang diadakan oleh Asosiasi Franco Indonesia – Pasar Malam. Acara ini berlangsung di sebuah library Sudestasie, yang berada di Paris 5, di mana daerah ini terkenal dengan Quartier Latin, tempat para pelajar/mahasiswa berkumpul.

Acara dijadwalkan pada jam 15h00, ternyata saya datang 20 menit lebih awal, dan library tersebut masih tutup. Maka saya dan P-J (supporter setia) memutuskan untuk menghangatkan badan dengan menuju kafe yang banyak bertebaran di sekitarnya. Dan….surprise….,ternyata library Sudestasie ini tidak jauh letaknya dengan Institute de Monde Arab. Maka, kamipun, melangkahkan kaki menuju ke sana. Karena waktu kami hanya 20 menit, maka kamipun hanya menuju kafe di Institute tersebut. Salah satu keunikan dari bangunan Institute ini adalah jendelanya yang terbuka atau tertutup sendiri dengan bantuan cahaya matahari.

Jam 15h00, kamipun kembali ke library Sudestasie, tampak Wuwun yang sudah datang dengan suaminya, juga beberapa pengunjung library. Tepat jam 15h15, Johanna, pengurus dari Asosiasi ini, mulai membuka acara bedah buku ini dengan sedikit menjelaskan isi buku saya, dilanjutkan dengan Wuwun, untuk lebih detailnya, dan saya sendiri dengan memberikan alasan-alasan kenapa kami mengangkat thema Tenaga Kerja Wanita ini. Juga, saya dan Wuwun menjelaskan proses penulisan buku ini. 

Selesai mempresentasikan buku Memburu Fatamorgana ini, acara dilanjutkan dengan tanya jawab, dan yang membuat saya berbunga-bunga adalah antusias pengunjung yang begitu tertarik dengan berbagai pertanyaan dari tokoh-tokoh dari buku Memburu Fatamorgana, apalagi dengan tokohnya Siti, hingga pertanyaan di luar isi buku, seperti apakah ada asoasi yang melindungi hak-hak para pekerja immigran tersebut, atau sejauh mana keterlibatan pemerintah Indonesia melindungi warganya sebagai pekerja immigran. Dan tidak terasa acara tanya jawab selama 2 jam berlalu.

Di akhir acara, ada pertanyaan berapakah angka penjualan buku Memburu Fatamorgana ini, dan ketika saya menyebutkan angka penjualannya, tepuk tangan para pengunjung membuat saya terharu.

Jam 18h20, sayapun memutuskan untuk berpamitan bersamaan dengan kepulangan para pengunjung dari acara ini. Dan sayapun pulang dengan perasaan bangga karena buku perdana saya bisa diterima oleh warga Perancis. 

Oh ya, library ini, tidaklah besar, layaknya library di Paris. Nama library ini yang berarti Asia Tenggra (Sud Est Asie). Dan para pengunjung dari acara bedah buku ini, hanyalah 11 orang, tapi pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan sungguh di luar dugaan, dan interesting untuk menjadi masukan buat saya. Sekali lagi, terima kasih untuk Asosiasi Franco-Indonesia Pasar Malam.

Montmorency, 12 February 2012