Setangkup Cinta Dari Negeri Seberang

Tulisan yang saya ikutkan untuk merayakan hari jadi Dharma Wanita Persatuan, Paris yang ke 15 pada  bulan Desember 2014. Dan tulisan saya ini, mendapatkan juara 2. Sebuah kebanggaan dan kebahagiaan di saat mood  menulis sedang terjun bebas. Semoga, tulisan ini akan menjadi booster buat saya untuk semakin berkarya.

—– O O O ——-

»Pure love is a willingness to give without a thought of receiving anything in return »

« Oh…enak banget ya tinggal di luar , seneng ya tinggal di luar, kamu sering banget jalan-jalan, » itu adalah komentar teman-teman saya yang tinggal di Indonesia setiap kali saya membagikan cerita tentang kehidupan saya di Perancis atau ketika berbagi cerita dan mengunduh foto dari tempat atau negara yang saya kunjungi. Bahkan ada yang menanyakan apakah profesi saya sebagai seorang wartawan perjalanan.

Memang…begitu banyak teman-teman saya di tanah air yang mengira bahwa saya mempunyai kehidupan yang nyaman di Perancis ini. Hidup saya hanyalah jalan-jalan saja karena foto-foto yang saya unduh lewat media sosial seperti Facebook ataupun blog saya. Walaupun saya juga sering menceritakan tentang kehidupan saya sebagai ibu rumah tangga dengan segala kerepotannya dari seorang ibu rumah tangga menjelma menjadi Upik Abu dengan segala urusan domestiknya, ataupun dalam hitungan jam berprofesi menjadi sopir, dan di saat-saat tertentu berubah kembali menjadi Baburella alias Madame. Tapi, cerita tentang jungkir baliknya seorang ibu rumah tangga yang tinggal di luar negeri tertutupi oleh acara jalan-jalan yang saya lakukan di saat liburan anak-anak, atau di saat me time.

Ya…seperti pepatah Jawa yang mengatakan urip iku sawang sinawang hidup itu hanyalah saling memandang, menduga kehidupan dari orang lain yang belum tentu benar adanya. Seperti apa yang diperkirakan tentang kehidupan saya di Perancis, atau bahkan sebaliknya saya melihat kehidupan teman saya di Indonesia, dengan segala fasilitasnya. Mis, ke mana-mana bisa diantar sopir, atau mempunyai pembantu yang siap untuk mengurus pekerjaan rumah tangga. Tapi…itulah manusia, selalu melihat bahwa rumput tetangga tampak selalu hijau dibandingkan rumput di rumah sendiri.

Walaupun tidak dapat dipungkiri, di beberapa sisi, kehidupan saya di Perancis bukanlah yang susah-susah juga. Bukan yang berarti harus bekerja 24 jam, 7 hari, tanpa mempunyai waktu untuk bersosialisasi atau ber me time. Saya bersyukur bahwa saya masih mempunyai kebebasan atau lebih tepatnya diberi kebebasan oleh suami saya dengan memberikan waktu untuk bersosialisasi ataupun mengembangkan kemampuan saya dengan mengijinkan saya untuk berorganisasi ataupun untuk belajar sesuatu yang baru.

Di saat-saat senggang, seringkali saya membaca berita tentang Indonesia. Begitu banyak berita yang membuat hati saya bersedih, salah satunya adalah ketimpangan di dunia pendidikan. Saya melihat bahwa begitu banyak anak-anak yang tinggal di berbagai pelosok tanah air yang susah untuk mendapatkan pendidikan, atau minimnya fasilitas pendidikan yang mereka dapatkan. Sedangkan anak-anak saya di sini bisa bersekolah dengan kwalitas yang bagus tanpa mengeluarkan sepeserpun.

Ditengah kegalauan saya membaca berita-berita tersebut, ada keinginan saya untuk membantu anak-anak saya tersebut. Keinginan berbagi karena saya melihat bagaimana beruntungnya anak-anak saya bisa mendapatkan pendidikan dengan segala fasilitasnya. Sekaligus saya ingin berbagi dengan apa yang saya miliki, rejeki, berkat yang telah diberikan olehNYA kepada saya sekeluarga.

Galau….yang membuat saya berpikir keras bagaimana untuk bisa berbagi. Beruntung di abad ke 21 ini, dengan kemajuan teknologi membuat kita dengan mudah untuk mendapatkan berbagai informasi walaupun kita tinggal dengan dipisahkan oleh laut yang beribu-ribu kilometer, lewat internet itu semua bukanlah satu masalah.

Lewat internet pula saya beruntung berkenalan dengan salah seorang blogger dari Surabaya, yang sempat menjadi salah satu finalis dari ACI (Aku Cinta Indoonesia) dari sebuah media di Indonesia. Fatah, nama kenalan saya tersebut. Dari Fatah inilah saya mengetahui bahwa salah seorang sesama finalis yang bernama Rosa yang mendapatkan daerah Maluku, Manusela lebih tepatnya, daerah yang dia jelajah.Setelah kepulangannya dia membuat program « 1 Buku Untuk Indonesia »

Di salah satu tulisannya di blognya, Fatah membagikan tulisan Rosa yang berjudul « Jendela untuk sahabat kecil Manusela, » menceritakan bagaimana kondisi seklolah di desa Manusela, Maluku, dimana Rosa tinggal selama program ACI dengan menjadi guru sukarela, keadaannya sungguh-sungguh memprihatinkan. Manusela, adalah desa terpencil yang berada di balik gunung Binaiya. Untuk mengumpulkan dana yang berupa buku-buku yang akan disumbangakan ke desa Manusela, maka Rosa membuka program kepedulian yang dia namakan « 1 Buku Untuk Indonesia. »

Membaca tulisan Rosa ini, hati saya terketuk. Keinginan saya ingin berbagi seperti mendapat jawaban. Saya hubungi Fatah, dari Fatahlah saya mendapatkan personal kontak Rosa. Dari obrolan saya lewat chatting saya mendapatkan gambaran program dan proyek yang diusung oleh Rosa ini, yaitu mengumpulkan buku yang akan dikirim ke sekolah SD YPPK Manusela.

312158_320080158009091_2098590839_n

Wajah SD YPPK Manusela

 

Hati saya terketuk. Saya tahu bahwa apa yang saya berikan sangatlah sedikit jika dilihat dari nominalnya, tapi saya yakin dari yang sedikit ini, paling tidak sangat besar artinya untuk anak-anak di desa Manusela ini. Sayapun menceritakan dengan salah seorang teman dekat saya tentang program 1 buku untuk Indonesia ini, dan teman sayapun tertarik untuk ikut berbagi.

Sumbangan buku ke Manusela adalah awal dari kegiatan-kegiatan berbagi buku dari program « 1 buku untuk Indonesia » ini, diikuti dengan membagikan buku ke sekolah-sekolah yang minim buku yaitu di Jogja, Tambora, Poso, Kalimantan hingga Papua.

Dengan berkembangnya kegiatan « 1 buku untuk Indonesia, » mengetuk hati teman-teman saya yang lain yang tinggal di Perancis ini untuk ikutan bergabung dengan kegiatan saya dalam « 1 buku untuk Indonesia. » Beberapa teman saya telah menjadi donatur tetap dari program ini. Bahkan jika beberapa bulan saya tidak memberikan kabar tentang pengumpulan dana untuk anak-anak yang kurang beruntung dalam pendidikan, maka teman-teman saya akan menanyakannya.

Saya tahu, bahwa apa yang saya juga teman-teman saya berikan tidaklah banyak, tapi dari tidak banyak sangat besar artinya bagi anak-anak di pelosok tanah air. Dan jika memberikan dengan cinta, akan ada keinginan untuk selalu memberi. Ibarat sebuah gelas yang kosong, dia tidak akan pernah meluber isinya, jika selalu diisi di saat isinya mulai berkurang.

Buat saya, adalah sebuah kebahagiaan yang tidak ada taranya, saat saya bisa berbagi untuk dunia pendidikan di Indonesia. Kebahagiaan seorang ibu yang tidak akan bisa saya utarakan dengan kata-kata, apalagi ketika Rosa menceritakan bagaimana anak-anak tersebut menerima kiriman buku-buku dari para donatur yang dikumpulkan oleh team « 1 buku untuk Indonesia. »

Dan jika ada yang beranggapan bahwa mereka-mereka yang tinggal di luar negeri dan berpasangan dengan warga negara asing tidak nasionalis, sungguh sangat menyakitkan hati sekali. Karena pada kenyataannya, anggapan tersebut tidaklah benar adanya. Karena banyak dari kami yang begitu peduli akan negara tercinta, Indonesia. Semoga rasa cinta saya juga beberapa teman saya yang dimanifestasikan dengan menyumbangkan buku adalah salah satu bentuk nyata kepedulian kami akan tanah air tercinta, Indonesia. Bahwa darah kami masih begitu kental untuk bisa melupakan tanah kelahiran kami tanpa mempedulikan akan adanya ketimpangan dalam pendidikan yang harus dibantu dengan cara kami…….

Semoga apa yang kami berikan adalah salah satu bentuk kepedulian dan dukungan untuk memajukan pendidikan di Indonesia, membuka jendela dunia bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia….. Jika 1 Buku Untuk Indonesia mempunyai motto, saya bangga menjadi bagianmu, maka sayapun bangga telah menjadi bagian dari program ini…. !!!

 

Note :

Foto diambil dari FB 1 Buku Untuk Indonesia.