Suara Dari Seberang….

Pemilihan presiden dan wakil presiden Indonesia 2014 sudah di depan mata. Saya dan teman-teman saya yang tinggal di Perancis tidak tahu harus memilih siapa….!! Sama bingungnya saat pemilihan caleg beberapa waktu yang lalu.

Di tengah kebingungan karena ketidak -tahuan, atau tahu walaupun tidak banyak akan visi dan program dari calon presiden dan wakilnya (ataupun pada pemilihan caleg). Banyak teman-teman atau WNI yang tinggal di luar, memberikan suaranya berdasarkan perhitungan kancing baju. ¬†Berbagai pertanyaan berseliweran diantara kami, seperti mengapa mereka tidak mengenal nama-nama para caleg dari daerah dimana mereka berasal. Dan ternyata…suara pemilih di LN adalah untuk para caleg DKI Jaya. Beruntungnya para caleg-caleg itu…., dan saya baru akan hal ini!!

Kembali ke pemilihan cawapres yang akan diadakan tgl 9 Juli mendatang, banyak diantara teman-teman saya yang tidak tahu akan memilih siapa, sama bingungnya pada pemilihan caleg yang lalu. Dan kali ini, banyak yang bersikap apatis, tidak peduli, kalaupun datang ke KBRI, sekedar untuk mencoblos, ketemuan ama teman, dan berakhir dengan berfoto ria….

Teringat akan curhatan seorang teman, saat dia ditanya akan memilih siapa oleh salah seorang teman di Indonesia pada saat chatting. Dia hanya menjawab, dia akan memberikan suaranya kepada calon presiden yang mempunyai program untuk mensahkan Undang-Undang Kewarganegaraan yaitu diberlakukannya dual nationality.

Sayapun setuju dengan jawaban teman saya tersebut. Karena pada kenyataannya, begitu banyak WNI yang tinggal di luar negeri, baik yang masih mempertahankan kewarganegaraannya ataupun yang sudah melepaskan kewarganegaraannya mengalami berbagai kendala untuk berbagai hal.

Terlepas dari yang masih atau mempertahankan kewarganegaraannya, pada kenyataannya pemerintah Indonesia seolah-olah atau kalau tidak boleh dibilang tidak pernah memperhatikan warganya yang tinggal di luar negeri. Kami diperlakukan seperti orang asing…. Contohnya, anak dan suami/istri yang harus memakai visa pada saat masuk Indonesia, perbedaan harga untuk masuk di berbagai tempat wisata, karena mereka adalah WNA. Walaupun WNA itu adalah anak atau suami/istri dari pasangan yang orang Indonesia!! Ataupun tidak diperbolehkan pelaku kawin campur untuk memiliki properti di Indonesia. Tidakkah pemerintah memikirkan bahwa banyak dari kami, pelaku kawin campur yang menginginkan untuk menghabiskan hari tua kami di Indonesia, dan jika meninggalpun ingin dikuburkan di tanah, tempat dimana kami dilahirkan…. Tapi, di saat PEMILU, pemerintah juga membutuhkan suara-suara kami…

Tidakkah pemerintah memikirkan suara yang telah kami berikan…., bukannya dengan suara yang kami berikan melalui selembar kertas di balik bilik pemilihan, juga ada harapan untuk diperhatikan sama halnya dengan rakyat Indonesia yang tinggal di Indonesia. Walaupun kami tidak tinggal di Indonesia bukan berarti kami tidak lagi mencintai negara kami tercinta, Indonesia. Walaupun ada beberapa dari kami sudah meninggalkan kewarganegaraan kami, bukan karena kami pengkhianat bangsa, tidak cinta Indonesia. TIDAK…., kami sangat mencintai negara Indonesia tercinta. Ada kekecewaan pada saat kami menanggalkan kewarganegaraan Indonesia kami, sekaligus ada rasa sedih di situ. Dengan tetap menjadi WNI ataupun telah menjadi WNA, kami tetap menjadi warga negara asing di negeri sendiri, Indonesia….

Lewat tulisan ini, saya hanya berharap, siapapun Presiden terpilih nanti, tolong dengarkan suara-suara kami yang tinggal di luar negeri. Karena, kamipun ingin diperlakukan sama seperti warga Indonesia yang tinggal di bumi pertiwi tercinta, Indonesia….!! Semoga suara-suara yang telah kami berikan, tidaklah sia-sia, ada harapan di sana….

*Foto diambil dari google*

Montmorency, 6 June 2014