Suara Kebebasan Itu….

“Il y a des paroles qui portes plus loin que le vent” – Arab proverb
Kira-kira artinya adalah, “Ada kata-kata yang maknanya akan terbang lebih jauh dari pada angin”

10917845_950192808331801_3201010359467076860_n

Terdengar gelak tawa dari ruang tamu. Jarum jam menunjukkan pukul 19:55, 5 menit munuju angka 20:00. Waktu untuk berita lokal di Perancis. Dan 5 menit yang sering membuat anak dan suami saya tertawa tergelak-gelak adalah acara bernama Guignol. Guignol, sebuah sandiwara boneka yang sangat terkenal di Perancis. Yang muncul sejak tahun 1800-an. Dan acara Guignol Info adalah acara yang sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat Perancis. Sebuah sandiwara boneka yang dalam dialog-dialognya penuh dengan nuansa sarkastik untuk mengkritik para politikus baik dari Perancis sendiri atau manca dunia.

Dialog-dialog sarkasnya, saya yakin bisa membuat telinga merah bagi yang disindir. Bahkan, saya sendiri, kurang suka dengan acara ini, karena dialog-dialognya yang tidak cocok dengan “budaya” Timur di mana saya berasal. Seringkali terjadi dialog panjang antara saya dengan suami saya tentang acara ini. Keberatan saya dan kesenangan dia menonton acara ini. Tapi, pada akhirnya, saya yang mengalah, membiarkan suami dan anak menonton, karena menurut saya, Guignol sudah seperti budaya Perancis.

7 Jan 2015, tragedi penembakan yang terjadi di kantor media Charlie Hebdo. Sebuah surat kabar satir. Seperti sudah banyak beredar di berbagai berita, bahwasannya surat kabar seringkali mempublikasikan tulisannya lewat-lewat gambar kartunnya. Seperti yang pernah saya tulis di status saya di FB, bukan hanya Islam saja yang telah menjadi “korban” olok-olok dari para jurnalisnya. Semua agama pernah menjadi bahan tulisan dan olok-oloknya. Juga berbagai politikus ataupun selebritis. Jadi, satu hal yang TIDAK BENAR jika surat kabar ini anti Islam. Sekali lagi saya tulis, TIDAK BENAR…!!

Saya tahu, Perancis bisa menjadi negara besar, karena motto yang mereka pegang, “liberté, égalité, dan fraternité.” Sebuah motto yang tidak muncul begitu saja, sebuah motto yang muncul karena perjuangan. Perjuangan yang dikenal dengan Revolusi Perancis. Jadi, tidak mengherankan, jika di negara ini, kebebasan untuk bersuara sangat dijunjung tinggi. Masyarakat Perancis terbiasa menyuarakan suara-suaranya untuk memprotes kebijaksanaan pemerintah dengan turun ke jalan…!! Dan ini sudah menjadi bagian dari budaya mereka. Jadi, tidaklah mengherankan, jika tidak sedikit surat kabar, buku-buku yang isinya sangat “nyeleneh” menurut beberapa orang. Tapi, inilah Perancis….., negara yang terkenal kelantangannya dalam bersuara.

Hati saya bergetar dengan aksi penembakan yang dilakukan oleh 2 orang yang mengatas namakan Islam. Saya tahu, bahwa Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan. Saya tahu bahwa kita mempunyai kewajiban untuk membela keyakinan kita. Tapi…, apakah dengan cara kekerasan seperti yang terjadi tanggal 7 Januari 2015!! Apakah dengan membunuh para jurnalis-jurnalis tersebut akan membunuh juga suara-suara mereka?? TIDAK…, karena suara-suara yang tertuang lewat tulisan tidak akan pernah mati oleh 50 peluru yang telah dimuntahkan….

Pasca aksi teroris 7 Januari 2015 yang lalu, kami, warga Perancis dihinggapi rasa ketakutan, was-was. Paris yang biasanya hiruk-pikuk tampak sedang berduka dengan ditandainya jalan-jalan, pertokoan, stasiun kereta/metro yang tampak sepi di saat jam sibuk. Banyak dari kami yang membatalkan acara ke luar, bahkan suami sayapun berkali-kali menelpon saya, untuk sekedar bertanya keberadaan saya, sekaligus mengingatkan untuk tidak ke luar rumah dan berada di keramaian.

Dalam kekhawatiran dengan apa yang sedang terjadi di Perancis, tidak sedikit media di Indonesia, ataupun segelintir orang-orang muslim ignoran yang menyukuri apa yang terjadi saat ini. Sedih….membaca tulisan-tulisan tersebut. Tidak tahukah mereka, bahwa korban dari kebiadaban 2 orang tersebut, salah satunya adalah “saudara” mereka seorang polisi dan sesama muslim, seorang ibu yang bekerja pembersih gedung, selain orang-orang yang menjadi sasaran mereka para jurnalis CH???? Tidak tahukah mereka di sana, bahwa banyak kaum muslim di sini yang dihinggapi rasa takut dengan akan semakin tingginya Islamophobia?? Bagaimana mungkin, mereka membenarkan perbuatan biadab atas nama agama???? Sebuah rasa solidaritas atau pemahaman tentang Islam yang cupet??? Mari, hilangkan rasa “solidaritas” yang membabi buta, tapi buka mata hati, bahwa Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan untuk membelanya. Jangan pernah menodai Islam dengan cara biadab baik dalam perbuatan dan perkataan. Ada cara yang lebih elegan untuk membela Islam.

Apa yang dilakukan oleh kakak beradik Kouchi bukanlah cermin dari ajaran Islam. Mereka hanyalah orang-orang yang minim pendidikan dan pengetahuan tentang Islam. Mereka hanyalah orang-orang yang pernah melakukan tindak kriminal di Perancis ini, negara di mana mereka tinggal dan mencari nafkah. Mereka adalah anak yatim piatu, yang jelas sekali bahwa apa yang mereka lakukan karena mereka tidak pernah merasakan cinta dari orang tua. Pengetahuan mereka tentang Islam sangat minim, seminim rasa cinta yang pernah mereka rasakan. Miris….

Jadi, sekali lagi, janganlah menjadi orang-orang ignoran dengan kejadian ini. Perancis tidak pernah memusuhi Islam. Perancis bukanlah negara yang ANTI Islam, justru, Perancis adalah negara yang penuh toleransi terhadap Islam. Hal ini dengan dibuktikannya Perancis menjadi negara yang paling banyak kaum muslimnya untuk Eropa. Jangan hanya dilihat dengan adanya larangan penggunaan burka di tempat umum, atau larangan penggunaan jilbab atau simbol-simbol agama yang lain di sekolah/kantor pemerintah. Jangan lupa Perancis adalah negara laic. Bahkan, di beberapa sekolah publik yang mayoritas adalah pendatang dari Afrika Utara yang nota bene adalah muslim, pihak sekolah lebih memprioritaskan makanan dengan label halal untuk anak didiknya…. Stop…, dengan opini, tulisan yang mendiskreditkan Perancis dengan kejadian ini. Jadilah muslim yang arif, dalam berpikir dan bertindak. Jangan nyalakan api kebencian lagi di saat kami yang berada di sini (Perancis) dalam suasana berduka dan ketakutan.

Sekali lagi, jangan siarkan kebencian dengan membenarkan perbuatan biadab ke-2 orang pelaku penembakan di Charlie Hebdo. Mari kita, bergandeng tangan menyiarkan perdamaian lewat tulisan yang menyejukkan. Ingat, kebebasan press tidak akan pernah mati, walaupun harus dibunuh lewat senjata kalachnikov, karena “la liberté de la presse n’a pas de prix.” Et je suis Charlie…..!!!

 

Montmorency, 9 Januari 2015.