(Xenophobia) Kekuatan Sebuah Akar


“Mama, apa artinya rasisme?” sebuah pertanyaan yang muncul dari mulut kecil Yves di saat usianya baru menginjak 7 tahun. Sebuah pertanyaan yang muncul, karena keingintahuannya di saat sedang gencarnya diberitakan di berbagai media lokal karena sedang terjadinya kerusuhan besar pada saat itu yang terjadi antara polisi dengan penduduk pinggiran Paris yang mayoritas adalah dari kalangan pendatang. Dengan sabar, saya mencoba menjelaskan apa arti rasisme, yang pada intinya, saya menekankan untuk tidak membeda-bedakan warna kulit, agama dalam satu pergaulan.

Dan saya sangat beruntung dengan perkembangan teknologi, anak-anak saya bisa mendapatkan berbagai informasi, tidak seperti masa kecil saya.

Tahun 1976, adalah awal di mana Timor Timur baru bergabung dengan Indonesia, sebagai provinsi termuda, saat saya baru berusia 9 tahun. Sebagai provinsi yang telah menjadi bagian dari Indonesia, tidaklah mengherankan, jika penduduknyapun ada yang merantau ke tanah Jawa. Hal itu ditandai dengan masuknya seorang gadis kecil berkulit hitam legam dan berambut kriwil di kelas saya, yang saya lupa namanya. 

Kehadiran teman baru saya ini, menjadi pusat perhatian, selain sebagai murid baru yang masuk di tengah tahun ajaran sekolah, juga penampilan fisiknya yang sangat berbeda, di mana teman-teman saya banyak yang berkulit kuning langsat. Perbedaan fisik inilah yang membuat saya juga teman-teman yang lain enggan bermain dengannya, karena yang ada di benak saya, teman baru saya sangat jorok dengan warna kulit hitamnya.

Hingga satu hari, ditengah teriknya panas matahari Surabaya, saya juga beberapa teman yang lain menunggu jemputan, termasuk si teman baru tersebut, dan karena panasnya matahari yang menyengat, teman saya dari Timor ini, meminta air minum dari beberapa teman termasuk saya, tapi tidak ada satupun yang mau berbagi bukan karena alasan kebersihan, tapi saat itu, saya berpikiran bahwa teman saya itu jorok…..,tiba-tiba seorang teman saya yang bernama Lidya, menyodorkan botol minumnya. Sebuah kejadian yang sangat menyakitkan, jika mengingat bagaimana saya telah bersikap terhadap teman saya tersebut, hanya karena perbedaan warna kulit. Helene kecil tidak pernah mengerti arti rasisme ataupun xenophobia pada saat itu, sempat menjadi bagiannya.

Tahun terus berjalan, cara berpikir, cara pandang tentang SARA semakin terbuka, apalagi begitu banyak kejadian berbau rasial yang terjadi di sekitar saya, ditambah selalu menjadi penduduk minoritas baik di Indonesia ataupun di Perancis, semakin mengajarkan saya untuk selalu menghargai perbedaan, apapun bentuknya. Dan hal ini, saya ajarkan kepada ke-2 anak saya, Yves dan Hugo.

Hingga tahun 2011, anak saya telah menjadi korban bullying atau harcelement dalam bahasa Perancis. Chintok….Chintok…..adalah olok-olok berkonotasi negatif untuk pendatang dari Asia dan China khususnya. Olok-olok ini dilontarkan terhadap Yves, karena dia keturuan Asia. Dan pelakunya adalah anak tetangga yang sebenarnya adalah pendatang juga walaupun dari daratan Eropa.

Saya yang mengajarkan dan menerapkan untuk menghargai perbedaan sedang diuji rupanya. Komunikasi dengan ibu si anak, tidak mendapatkan tanggapan positif, tapi dia akan berubah sikap, jika yang datang adalah suami saya, dan si anakpun berhenti mengolok-olok Yves walaupun hanya berjalan beberapa hari.

Kejadian ini, sangat menguras energi saya, suami, juga Yves sendiri, dengan turunnya nilai-nilai pelajarannya, ataupun mimpi-mimpi buruk di tidur malamnya. Laporan ke sekolahpun saya lakukan, dan mendapatkan tanggapan positif, yang sayangnya….tidak mendapat tanggapan/niat baik dari orang tua si anak tersebut.

Kasus bullying ini berubah menjadi vandalisme, dengan terjadinya pengrusakan mobil saya, yaitu goresan sepanjang badan mobil saya. Tuduhan ini, tidak akan terjadi, jika saya tidak memergoki ketika si anak tersebut melakukan aksinya untuk ke-2 kalinya. Dan dengan terpaksa, kasus ini saya laporkan ke polisi. Dari bullying hingga pengrusakan isi dari laporan kami. 

Pemerintah Perancis sedang memberantas harcelement ataupun rasisme yang banyak terjadi di sekolah-sekolah, tidaklah mengherankan, jika laporan saya ini segera ditindak lanjuti oleh pihak kepolisian. Bahkan berkas-berkasnya dikirimkan ke Dept. Pendidikan. Dan pihak sekolahpun, segera bertindak, dengan mengeluarkan si anak tersebut. Yang membuat saya salute dengan pihak sekolah, adalah di hari terakhir si anak nakal di kelas, sang wali kelas membuat pesta perpisahan kecil-kecilan, di mana setiap anak diminta untuk memberikan kata-kata persahabatan untuk menghilangkan dendam. 3 bulan yang melelahkan, berakhir dengan helaan nafas lega.

Dengan kejadian yang pernah saya alami di masa kecil saya, ataupun yang pernah dialami oleh Yves, semakin menyuburkan ajaran yang selalu saya tekankan kepada anak-anak saya bahwa selalu menghargai semua perbedaan. Karena ketakutan ataupun kebencian yang dilakukan oleh anak-anak terhadap orang asing  dilakukan tanpa disadari karena ketidak tahuannya, jika tidak ada yang memberi penjelasan yang benar dari orang dewasa, akan berkembang menjadi rasisme.

Mari kita ajarkan kepada anak-anak kita semenjak dini satu kata penting dalam bersosialisasi “RESPEK.” Dan saya percaya, dengan saling menghargai, kita bisa saling bergandeng tangan menjalin persahabatan dan persaudaraan.